Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: AFP
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: AFP

Zelensky Tegaskan Rusia Lakukan Teror Nuklir

Medcom • 08 Agustus 2022 18:07
Kyiv: Ukraina dan Rusia saling menyalahkan terkait serangan di pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. Serangan dalam dua hari berturut-turut telah menghancurkan tiga sensor radiasi serta melukai para pekerja fasilitas nuklir terbesar di Eropa itu.
 
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyebut penembakan yang terjadi pada Sabtu malam sebagai “Teror Nuklir Rusia” yang menjamin lebih banyak sanksi internasional, kali ini di bagian sektor nuklir Moskow.
 
“Tidak ada negara di dunia ini yang merasa tenang ketika negara teroris menembaki fasilitas pembangkit nuklir,” ujar Zelensky dalam siaran televisi pada  Minggu, yang dikutip The Straits Times, Senin, 8 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, pihak otoritas Rusia yang menempati wilayah tersebut mengatakan bahwa Ukraina yang menghantam area tersebut dengan beberapa roket peluncur. Mereka mengatakan Rusia merusak fasilitas administratif dan area dekat fasilitas penyimpanan.
 
Baca: PLTN Zaporizhzhia Terkena Serangan, Rusia dan Ukraina Saling Menyalahkan.

Hingga saat ini, belum dapat memverifikasi hal tersebut dengan kedua belah pihak. Peristiwa yang terjadi di area Zaporizhzhia –,dimana Kyiv sebelumnya menuduh Rusia menembaki pembangkit listrik tersebut pada Jumat,– telah mengkhawatirkan dunia.
 
“Kejadian tersebut menggarisbawahi resiko bencana nuklir yang sangat besar,” peringatan kepala Agensi Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Mariano Grossi pada Sabtu.
 

Gandum mulai diekspor

Selain itu, kesepakatan mengenai pembukaan blokir ekspor makanan Ukraina dan mengurangi kekurangan global berjalan semakin cepat ketika empat kapal telah berlayar keluar dari pelabuhan Laut Hitam Ukraina, sejak kapal kargo pertama berlabuh semenjak invasi pelabuhan Rusia pada tanggal 24 Februari.
 
Sebanyak empat kapal yang tengah berlayar membawa hampir 170.000 ton jagung dan makanan lainnya. Mereka berlayar di bawah perjanjian yang ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Turki untuk menolong pelonjakan harga pangan yang melambung akibat perang.
 
Sebelum invasi Rusia pada 24 Februari, yang mana Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebutnya sebagai “operasi militer khusus”.
 
Rusia dan Ukraina adalah dua negara penyumbang hampir sepertiga ekspor gandum global. Semenjak itu, kendala tersebut telah mengancam kelaparan di berbagai belahan dunia.
 
“Pasukan Putin tengah berusaha mendapatkan kendali penuh atas wilayah Donbas, timur Ukraina, dimana separatis pro-Moskow telah menyita teritori tersebut setelah Kremlin telah menginvasi Krimea ke bagian selatan pada 2014. Militer Rusia meningkatkan penyerangannya ke arah utara dan barat laut Kota Donetsk di Donbas pada Minggu,” ujar militer Ukraina.
 
Rusia menyerang posisi Ukraina di dekat pemukiman Piski dan Avdiivka yang dijaga ketat, serta menembaki lokasi lainnya di wilayah Donetsk.
 
Sebagai tambahan untuk memperkuat cengkramannya terhadap wilayah Donbas, Rusia telah merembet posisinya ke area selatan Ukraina, dimana mereka telah mengumpulkan pasukan dengan upaya pencegahan adanya potensi serangan balik di dekat Kherson.
 
Ketika pertempuran semakin memanas, Rusia yang telah terpasang di wilayah tersebut semenjak invasi, telah mempermainkan gagasan untuk bergabung dengan wilayah pendudukan Ukraina ke Rusia.
 
Bulan lalu, seorang pejabat senior pro-Rusia mengatakan bahwa referendum terkait langkah tersebut kemungkinan besar terjadi “tahun depan”.
 
Dalam video pidatonya, Presiden  Zelensky mengatakan bahwa setiap "referendum semu" di wilayah pendudukan negaranya yang bergabung dengan Rusia akan meninggalkan kemungkinan adanya pembicaraan antara Moskow dan rekan Ukraina atau sekutu mereka.
 
“Mereka akan menutup sendiri segala perubahan pembicaraan dengan Ukraina dan dunia luar yang mana Rusia dengan jelas akan membutuhkannya dalam beberapa poin,” sampai Zelensky.
 
Pada Minggu juga, kepala jaksa kejahatan perang mengatakan hampir 26.000 kasus kejahatan militer – yang dilakukan semenjak invasi, tengah dalam penyidikan, dengan 135 orang dijatuhi sebagai tersangka, dari 15 orang lainnya dalam pengawasan. Rusia menyangkal menargetkan masyarakat sipil.
 
Semalam, penyerangan serta penembakan rudal dilaporkan terjadi pada kota Kharkiv, Ukraina dan sekitar area militer di bagian barat Vinnitsya, dan juga beberapa wilayah lainnya, ujar pihak otoritas setempat.
 
Hingga saat ini belum ada laporan terkait berapa banyak korban dari penyerangan tersebut. Di luar Ukraina, pertempuran proxy yang berjalan di Federasi Catur Internasional, di mana mantan wakil perdana menteri Rusia Arkady Dvorkovich memenangkan masa jabatan keduanya sebagai presiden, mengalahkan Andrii Baryshpolets dari Ukraina.
 
Setelah kontroversi berhari-hari, Amnesty International meminta maaf atas “kesulitan dan kemarahan” yang disebabkan laporan yang menuduh Ukraina membahayakan masyarakat sipil. Hal tersebut membuat Zelensky marah dan membuat kepala kantor hak asasi manusia Ukraina mengundurkan diri dari jabatannya. (Gracia Anggellica)

 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif