PLTN Zaporizhzhia terlihat di kejauhan dari Nikopol, Ukraina, 27 April 2022. (Ed JONES/AFP)
PLTN Zaporizhzhia terlihat di kejauhan dari Nikopol, Ukraina, 27 April 2022. (Ed JONES/AFP)

Ukraina Sebut Serangan Rusia Rusak 3 Sensor Radiasi di Fasilitas Nuklir Zaporizhzhia

Marcheilla Ariesta • 08 Agustus 2022 09:18
Kiev: Ukraina mengatakan penembakan Rusia yang baru telah merusak tiga sensor radiasi dan melukai seorang pekerja di pembangkit listrik Zaporizhzhia. Ini merupakan serangan kedua dalam beberapa hari berturut-turut di fasilitas nuklir terbesar di Eropa.
 
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut penembakan yang terjadi pada Sabtu malam itu sebagai "teror nuklir Rusia". Ia menuntut lebih banyak sanksi internasional, kali ini di sektor nuklir Moskow.
 
"Tidak ada negara seperti itu di dunia yang bisa merasa aman ketika negara teroris menembaki pembangkit listrik tenaga nuklir," kata Zelensky dalam pidato yang disiarkan televisi, dilansir dari Straits Times, Senin, 8 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, otoritas yang ditempatkan Rusia di daerah itu mengatakan, Ukraina yang menghantam situs itu dengan beberapa peluncur roket, merusak gedung-gedung administrasi dan daerah di dekat fasilitas penyimpanan.
 
Peristiwa di situs Zaporizhzhia -Kiev sebelumnya menuduh Rusia menabrak kabel listrik pada Jumat kemarin- telah mengkhawatirkan dunia.
 
"(Ini) menggarisbawahi risiko yang sangat nyata dari bencana nuklir," ujar kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Mariano Grossi.
 
Baca juga: PLTN Zaporizhzhia Terkena Serangan, Rusia dan Ukraina Saling Menyalahkan

Di tempat lain, kesepakatan untuk membuka blokir ekspor makanan Ukraina dan mengurangi kekurangan global meningkat ketika empat kapal lainnya berlayar keluar dari pelabuhan Laut Hitam Ukraina sementara kapal kargo pertama sejak invasi Rusia pada 24 Februari.
 
Sebanyak empat kapal keluar membawa hampir 170 ribu ton jagung dan makanan lainnya.  Mereka berlayar di bawah kesepakatan yang ditengahi oleh PBB dan Turki, yang mencoba membantu meringankan melonjaknya harga pangan global akibat perang.
 
Sebelum invasi Moskow 24 Februari, yang oleh Presiden Rusia Vladimir Putin disebut sebagai "operasi militer khusus", Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang hampir sepertiga dari ekspor gandum global.
 
Gangguan sejak itu telah mengancam kelaparan di beberapa bagian dunia. Pasukan Putin berusaha untuk mendapatkan kendali penuh atas wilayah Donbas di Ukraina timur, dengan separatis pro-Moskow merebut wilayah setelah Kremlin mencaplok Krimea di selatan pada 2014.
 
Sementara itu, pasukan Rusia dilaporkan meningkatkan serangan di utara dan barat laut kota Donetsk di Donbas pada Minggu kemarin. Rusia disebut menyerang posisi Ukraina di dekat pemukiman Piski dan Avdiivka yang dijaga ketat, serta menembaki lokasi lain di wilayah Donetsk.
 
"Selain memperketat cengkeramannya atas Donbas, Rusia memperkuat posisinya di Ukraina selatan, ia telah mengumpulkan pasukan dalam upaya untuk mencegah potensi serangan balasan di dekat Kherson," jelas Kiev.
 
(AHL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif