Menteri Inggris untuk Urusan Lingkungan, Pangan dan Pedesaan (DEFRA), George Eustice. (DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP)
Menteri Inggris untuk Urusan Lingkungan, Pangan dan Pedesaan (DEFRA), George Eustice. (DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP)

Inggris Amankan Komitmen G7 untuk Atasi Perubahan Iklim

Internasional g7 Inggris perubahan iklim ktt g7
Willy Haryono • 25 Mei 2021 07:31
London: Menteri Iklim dan Lingkungan G7, di bawah kepemimpinan Inggris, mencapai komitmen bersejarah pada Jumat, 21 Mei kemarin, yang akan menempatkan iklim, keanekaragaman hayati dan lingkungan di jantung pemulihan Covid-19 di seluruh dunia.
 
Presiden Terpilih COP26 Alok Sharma dan Menteri Inggris untuk Urusan Lingkungan, Pangan dan Pedesaan (DEFRA) George Eustice, mengumpulkan para Menteri menjelang KTT para pemimpin G7 pada Juni mendatang, termasuk negara-negara tamu, yaitu India, Australia, Afrika Selatan dan Korea Selatan.
 
Semua anggota G7 menandatangani inisiatif global '30x30' untuk melestarikan atau melindungi setidaknya 30 persen daratan dunia dan setidaknya 30 persen lautan dunia pada tahun 2030, serta berkomitmen untuk '30x30' secara nasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tahun ini sudah menjadi 'G7 nol bersih' yang pertama, dengan semua negara berkomitmen mencapai emisi nol karbon paling lambat pada 2050, dengan target pengurangan emisi yang signifikan pada tahun 2020-an.
 
Melangkah lebih jauh dengan mendukung transisi ke energi hijau di luar G7, kelompok tersebut juga setuju untuk menghentikan pendanaan pemerintah untuk proyek bahan bakar fosil secara global - menyusul komitmen utama yang dibuat oleh Inggris pada bulan Desember.
 
Sebagai langkah pertama, negara-negara G7 akan mengakhiri semua pembiayaan baru untuk tenaga batu bara pada akhir 2021, diimbangi dengan peningkatan dukungan untuk alternatif energi bersih seperti matahari dan angin. Juga disepakati untuk mempercepat transisi dari kapasitas batu bara yang masih kuat ke sistem tenaga dekarbonisasi yang sangat besar pada tahun 2030-an.
 
G7 telah sepakat untuk meningkatkan jumlah pendanaan untuk aksi iklim, termasuk untuk alam, guna memenuhi target $100 miliar per tahun untuk mendukung negara-negara berkembang.
 
Selain itu, G7 telah berkomitmen untuk memperjuangkan berbagai target keanekaragaman hayati global yang ambisius dan efektif, termasuk kesepakatan kerangka keanekaragaman hayati global yang ambisius dan efektif pada CBD (Konvensi Keanekaragamanhayati) COP15 akhir tahun ini.
 
Langkah-langkah untuk mengatasi deforestasi global juga diamankan, dengan G7 berkomitmen meningkatkan dukungan bagi rantai pasokan berkelanjutan yang memisahkan produksi pertanian dari deforestasi dan degradasi hutan, termasuk produksi yang berasal dari konversi lahan ilegal.
 
Di tahun yang penting untuk aksi global terhadap lingkungan dan iklim ini, Inggris telah menempatkan penanggulangan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati di pusat agenda G7-nya.
 
Baca:  Inggris Pastikan G7 Mampu Atasi Tantangan dan Ancaman Global
 
Menteri Eustice mengatakan bahwa untuk pertama kalinya G7 berkomitmen untuk menghentikan dan mengembalikan hilangnya keanekaragaman hayati pada 2030. Menurut dia, ini adalah langkah maju yang besar sebelum Inggris menjadi tuan rumah G7 di Cornwall bulan depan dan merupakan tanda dedikasi untuk mempercepat tindakan dalam G7 - dan seterusnya - untuk mengatasi tantangan ganda perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.
 
"Kami telah melihat kemajuan luar biasa minggu ini dan sangat gembira melihat negara-negara bekerja sama untuk meningkatkan ambisi kami dan memimpin dengan tauladan dengan memainkan peran masing-masing," ujar Eustice, dalam keterangan tertulis Kedutaan Besar Inggris yang diterima Medcom.id pada Selasa, 25 Mei 2021.
 
Sementara itu Presiden Terpilih COP26 Alok Sharma mengatakan bahwa ini adalah net zero pertama G7. 
 
"Di bawah Kepresidenan kerajaan Inggris Raya, G7 menunjukkan kepemimpinan yang hebat dalam menangani perubahan iklim dan memastikan mereka yang paling terkena dampaknya terlindungi dengan lebih baik. Saat kita pulih dari pandemi, kita fokus kembali pada pembangunan yang lebih hijau - menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran, tanpa merusak planet ini," ungkap Sharma. 
 
"Kami sadar bahwa kita harus meninggalkan penggunaaan batu bara dan G7 telah mengambil langkah besar menuju sistem tenaga dekarbonisasi. Tindakan yang kami ambil di luar Inggris, sama seperti yang kami lakukan di dalam negeri, yaitu dengan sepakat menghentikan pendanaan bahan bakar fosil internasional, dimulai dengan batu bara - tonggak penting lain di tahun yang juga penting untuk aksi iklim," sambungnya.
 
Sharma berharap dapat melanjutkan pekerjaan ini seiring dengan kemajuan yang dicapai menjelang COP26 di Glasgow akhir tahun ini dan mempertahankan target 1,5 derajat dalam jangkauan.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif