Pedemo penolak kudeta militer di Myanmar masih terus lakukan aksi. Foto: AFP
Pedemo penolak kudeta militer di Myanmar masih terus lakukan aksi. Foto: AFP

Pedemo Tewas, AS Kembali Jatuhkan Sanksi untuk Pejabat Militer Myanmar

Internasional RUU KUHP amerika serikat myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar
Marcheilla Ariesta • 23 Februari 2021 16:55
Washington: Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada dua pejabat militer Myanmar. Sanksi menjadi tanggapan atas kematian pengunjuk rasa anti kudeta di Myanmar akibat peluru militer.
 
Sanksi dijatuhkan kepada Moe Myint Tun dan Maung Maung Kyaw. Dalam pernyataan Kementerian Keuangan meminta militer Myanmar untuk mengangkat kembali pemerintah yang dipilih secara demokratis atau menghadapi tindakan lebih lanjut.
 
"Amerika Serikat akan terus bekerja dengan mitra di seluruh kawasan dan dunia untuk menekan militer dan polisi Myanmar agar menghentikan semua kekerasan terhadap para pengunjuk rasa damai," kata pernyataan Kementerian Keuangan AS, dilansir dari Voice of America, Selasa, 23 Februari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mereka juga meminta agar militer mendukung pemulihan demokrasi dan supremasi hukum di Myanmar. AS juga mendesak agar dilakukan pembebasan tahanan politik, termasuk pemimpin de facto Aung San Suu Kyi, dan Presiden Win Myint.
 
"Serta mempromosikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab mencoba membalikkan kemajuan Burma (Myanmar) menuju demokrasi," imbuh mereka.
 
Awal bulan ini, Kementerian Keuangan menerapkan sanksi kepada 10 mantan pejabat militer.
 
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell juga mengutuk kudeta dan kekerasan terhadap para demonstran. Dia mengatakan para menteri Uni Eropa telah menyetujui serangkaian tindakan, termasuk menerapkan sanksi terhadap tokoh militer yang bertanggung jawab atas kudeta dan kepentingan ekonomi mereka.
 
Ia menuturkan Uni Eropa akan menahan semua dukungan keuangan langsung untuk program reformasi pemerintah di Myanmar. Meski demikian, ia mengatakan tindakan tersebut tidak akan berdampak pada masyarakat Myanmar.
 
"Uni Eropa akan terus mendukung masyarakat sipil dan menyediakan layanan dasar," imbuhnya.
 
Sejauh ini, tiga demonstran antikudeta Myanmar dilaporkan tewas saat berdemo. Seorang diantaranya adalah perempuan yang sempat kritis selama sepekan akibat luka peluru tajam di kepalanya.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif