Logo perusahaan obat Pfizer. (Dominick Reuter/AFP/Getty)
Logo perusahaan obat Pfizer. (Dominick Reuter/AFP/Getty)

Para Pakar AS Tegaskan Obat Covid-19 Bukan Pengganti Vaksinasi

Marcheilla Ariesta • 09 November 2021 13:22
New York: Obat Covid-19 buatan perusahaan Merck & Co dan Pfizer Inc-BioNTech telah terbukti secara klinis ampuh menangani gejala-gejala berat penyakit tersebut. Meski demikian, para dokter memperingatkan masyarakat untuk tidak salah mengartikan keunggulan dari mengonsumsi obat Covid-19 dan menerima vaksinasi.
 
Jajak pendapat Kaiser Family Foundation melaporkan bahwa 72 persen orang dewasa di Amerika Serikat (AS) telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Laju vaksinasi di sana mulai melambat karena satu dan lain hal, termasuk faktor politik.
 
Dilansir dari Malay Mail, Selasa, 9 November 2021, kewajiban vaksinasi oleh pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah berhasil mendorong laju vaksinasi, namun juga memicu pertentangan dari kelompok anti-vaksin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa pakar khawatir kedatangan obat Covid-19 dari Merck dan Pfizer dapat membuat kelompok anti-vaksin semakin tidak ingin mengikuti vaksinasi.
 
Hasil awal survei terhadap 3.000 warga AS oleh City University of New York (CUNY) School of Public Health menunjukkan bahwa pil Covid-19 membuat sebagian warga semakin enggan divaksinasi. Ahli komunikasi kesehatan di CUNY, Scott Ratzan mengatakan, satu dari delapan orang yang disurvei mengatakan lebih suka diobati dengan pil ketimbang divaksinasi.
 
Pfizer telah menyatakan bahwa pil mereka, Paxlovid, dapat mengurangi risiko rawat inap dan kematian akibat Covid-19 sebesar 89 persen di kalangan orang dewasa berisiko tinggi. Pernyataan Pfizer semakin menambah kekhawatiran akan melambatnya laju vaksinasi di Negeri Paman Sam.
 
Baca:  Pil Pfizer Diklaim 89 Persen Efektif terhadap Gejala Berat Covid-19
 
"Dengan hanya mengandalkan obat Covid-19, Anda seperti bermain dadu (terkait kesehatan tubuh). Jelas ini lebih baik daripada tidak (ada obat) sama sekali, tapi tetap saja risikonya tinggi," ucap pakar vaksin di Baylor College of Medicine, Dr Peter Hotez.
 
Enam ahli penyakit menular lainnya di AS menyambut baik kemunculan obat Covid-19 berbentuk pil. Namun mereka menegaskan obat-obatan tersebut bukan pengganti vaksin.
 
CEO Pfizer Albert Bourla juga menegaskan bahwa pil buatan perusahaannya masuk ke ranah pilihan, sementara vaksinasi merupakan hal mutlak. "Kesalahan tragis jika memilih untuk tidak divaksinasi," kata Albert Bourla.
 
"Obat-obatan ini adalah untuk orang-orang yang akan jatuh sakit jika terpapar virus," lanjutnya.
 
Ia menegaskan, kemunculan obat Covid-19 tak bisa dijadikan alasan untuk tidak mengikuti vaksinasi. "Anda akan membahayakan diri sendiri, keluarga dan masyarakat jika tidak divaksinasi," pungkasnya.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif