Ratusan demonstran di New York, AS, berbaring dengan posisi telungkup dalam memprotes kematian George Floyd. (Foto: Timothy A Clary/AFP)
Ratusan demonstran di New York, AS, berbaring dengan posisi telungkup dalam memprotes kematian George Floyd. (Foto: Timothy A Clary/AFP)

Tiru Momen Terakhir Floyd, Ribuan Pedemo Tiarap di Jalan

Internasional Kematian George Floyd
Willy Haryono • 03 Juni 2020 13:02
Portland: Ribuan pengunjuk rasa di Portland beramai-ramai berjalan menuju jembatan Burnside Bridge dalam mengecam kematian pria kulit hitam George Floyd. Sesampainya di sana, mereka melakukan aksi tiarap di jalan dengan kedua tangan seolah terikat di bagian pinggang belakang.
 
Dilansir dari Oregon Live, Rabu 3 Juni 2020, aksi tersebut menyimbolkan momen terakhir Floyd saat lehernya ditindih lutut seorang polisi bernama Derek Chauvin pada Senin 25 Mei.
 
Chauvin dan tiga rekannya telah dipecat dari jajaran Kepolisian Minneapolis satu hari usai kejadian. Chauvin dijerat satu pasal pembunuhan tingkat tiga dan satu pasal kelalaian berujung kematian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hasil autopsi resmi menunjukkan Floyd meninggal akibat dibunuh, terlepas dari beberapa kondisi medis yang dideritanya. Kematian Floyd memicu unjuk rasa berskala masif di puluhan kota AS.
 
Baca:Hasil Otopsi Resmi Pemerintah AS Sebut Floyd Dibunuh
 
Aksi protes di Portland telah berlangsung enam malam berturut-turut. Gelombang unjuk rasa di Portland terkadang berlangsung damai, namun beberapa kali diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan.
 
Senin kemarin, sebagian besar demonstran di Portland relatif bertindak damai dan hanya menyerukan yel-yel. Hal serupa terlihat dalam aksi demo satu hari setelahnya.
 
Sebagian demonstran berusaha menyingkirkan pagar pembatas yang dipasang polisi di wilayah perkotaaan. Aparat keamanan memperingatkan demonstran untuk tidak menggoyang-goyang pagar, atau aksi tegas terpaksa dilakukan petugas.
 
Wali Kota Portland Ted Wheeler mengakui bahwa aksi protes mengecam kematian Floyd pada Selasa kemarin jauh lebih damai dari sebelumnya. Ia pun memutuskan untuk tidak memperpanjang aturan jam malam.
 
"Apa yang kita lihat saat ini adalah momen luar biasa dalam sejarah. Orang-orang berdatangan, bersatu, untuk mendukung komunitas kulit hitam dalam gerakan yang belum pernah kita lihat sebelumnya," sebut Wheeler.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif