Polisi Kamboja memeriksa warga di kota Poipet yang hendak melintasi perbatasan menuju Thailand, 9 November 2019. (Ban THEARO / AFP)
Polisi Kamboja memeriksa warga di kota Poipet yang hendak melintasi perbatasan menuju Thailand, 9 November 2019. (Ban THEARO / AFP)

UNHCR Kecam Thailand yang Deportasi Pengungsi Ketiga Kamboja

Medcom • 23 November 2021 19:49
Jenewa: Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mengecam Thailand karena mendeportasi pengungsi ketiga Kamboja, Thavry Lanh, dalam dua pekan terakhir. Deportasi dilakukan setelah seorang mantan politisi perempuan dikirim Thailand ke sebuah penjara di Phnom Penh, Kamboja.
 
Dilansir dari AFP, Selasa, 23 November 2021, Lanh yang berasal dari Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP) merupakan kritikus vokal pemerintahan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, salah satu pemimpin terlama di dunia yang telah berkuasa selama 36 tahun.
 
Lanh melarikan diri ke Thailand lebih dari empat tahun lalu. Jumat kemarin, petugas imigrasi Thailand diketahui menangkap Lanh di sebuah kota perbatasan timur. Ia pun dikirim ke Kamboja pada hari berikutnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pejabat senior UNHCR, Gillian Triggs mengatakan, langkah deportasi bertentangan dengan non-refoulement, istilah bagi larangan mengirim orang kembali ke tempat-tempat di mana kehidupan atau kebebasan mereka berada dalam bahaya.
 
Deportasi Lanh terjadi 10 hari setelah dua pengungsi Kamboja lainnya yang terdaftar di UNHCR dikirim Thailand ke Kamboja. UNHCR mencoba ikut campur dalam ketiga kasus tersebut, namun pemerintah Thailand tetap melanjutkan deportasi.
 
"Kami sangat khawatir dengan tren pemulangan paksa pengungsi ke Kamboja, di mana mereka menghadapi risiko penganiayaan serius," kata Triggs dalam pernyataan tersebut, seraya menambahkan, UNHCR khawatir terkait nasib pengungsi lain di Thailand.
 
Suami Lanh, Radong Phin, mengaku sangat khawatir atas keselamatan istrinya. Lanh ditahan di penjara Prey Sar di Phnom Penh, menunggu persidangan dalam kasus "pengkhianatan." Namun hingga kini, tanggal pengadilannya belum diketahui.
 
"Ia mungkin dipenjara selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Saya juga khawatir tentang kesehatannya, karena ia menderita asma dan harus minum obat," ujar Phin kepada AFP, seraya menambahkan, ia tidak dapat berbicara dengan Lanh karena telepon istrinya disita.
 
Baca:  Thailand Antisipasi Kemungkinan Masuknya Ribuan Pengungsi Myanmar
 
Awal November ini, Human Rights Watch (HRW) mengatakan, Veourn Veasna dan Voeung Samnang dipulangkan dari Thailand ke Kamboja untuk menghadapi "dakwaan bermotif politik" di negaranya. Kedua individu itu disebut memiliki hubungan dengan CNRP.
 
Veasna dan Samnang diketahui pernah mengunggah materi kritis terhadap pemerintahan PM Hun Sen di Facebook. Tahun lalu, keduanya melarikan diri ke Thailand. (Nadia Ayu Soraya)
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif