Komentar Dubes Piket tersebut merupakan tanggapan atas pernyataan Dubes Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva yang menyebut reaksi negara Barat terhadap konflik di Ukraina "tidak proporsional."
"Tidak bisa membandingkan satu krisis dengan krisis lain, karena kondisi dan situasinya berbeda. Itu tidak relevan untuk situasi yang sekarang," kata Dubes Piket dalam wawancara khusus dengan Medcom.id, Selasa, 29 Maret 2022.
Dubes Piket menjelaskan, invasi Rusia ke Ukraina tidak dapat dibenarkan, begitu juga dengan perilaku agresif seperti yang terjadi di Suriah atau Afghanistan. Meski ada kesamaan, lanjut dia, krisis di tempat lain tidak bisa dijadikan pembenaran oleh Rusia untuk melancarkan invasi.
Menjelang invasi pada 24 Februari lalu, Rusia disebut Dubes Piket telah menyiagakan sekitar 150 ribu tentara di perbatasan Ukraina. "Mereka memasang sistem rudal perangkat keras militer dan sejenisnya, dan (Ukraina) diserang tanpa provokasi apapun," ucapnya.
Baca juga: Dubes Rusia: Reaksi Barat Terhadap Operasi Militer di Ukraina Tidak Proporsional
"Itu yang harus kita tangani. Artinya, terus menyerukan kepada Rusia agar gencatan senjata dilakukan, menghormati koridor kemanusiaan, dan menarik pasukan," sambung dia.
Pekan lalu, Dubes Lyudmila menilai reaksi negara-negara Barat sangat tidak proporsional terhadap negaranya. Menurutnya, ada standar ganda dalam pengambilan keputusan oleh Uni Eropa dan sekutunya.
Ia membahas mengenai sanksi yang diberikan negara Barat untuk 'menjatuhkan' Rusia. Dubes Lyudmila membandingkan kasus mereka dengan Israel yang menyerang Jalur Gaza, Palestina atau Amerika Serikat (AS) yang menyerang Libya.
"Reaksi Barat benar-benar tidak proporsional. Ada banyak kemunafikan jika mereka berpikir operasi militer semacam ini adalah salah Rusia," sebut Dubes Lyudmila.
"Tidak ada tindakan terhadap Israel, Amerika Serikat, atau NATO. Reaksi semacam itu adalah kemunafikan dan standar ganda," sambung dia.
Dubes Lyudmila mengatakan, apa yang Barat coba lakukan adalah menghancurkan sistem logistik dan perdagangan global yang telah dibangun dengan susah payah dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara itu, Dubes Piket berharap perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina dapat segera disepakati. Setelah krisis tersebut nantinya berlalu, sebut Dubes Piket, Uni Eropa akan membantu pembangunan kembali Ukraina.
"Anda bisa lihat kerusakannya. Biayanya sangat besar, kami tidak tahu berapa, tapi kami akan membantu Ukraina," tegasnya. Uni Eropa akan mengumpulkan dana secara mandiri untuk membantu pemulihan Ukraina pascaperang.
"Kami akan membentuk Dana Internasional untuk negara lain yang akan membantu rekonstruksi Ukraina, masyarakat, perumahan, infrastruktur sosial, pabrik dan lainnya segera setelah perang," pungkas Dubes Piket.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News