Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken. (Stefani Reynolds / POOL / AFP)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken. (Stefani Reynolds / POOL / AFP)

AS Rilis Laporan HAM 2021, Blinken Singgung Perang Rusia-Ukraina

Internasional Amerika Serikat hak asasi manusia Kasus HAM Rusia-Ukraina Antony Blinken Perang Rusia-Ukraina
Willy Haryono • 16 April 2022 17:04
Washington: Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah merilis laporan hak asasi manusia 2021 yang membahas mengenai berbagai sesuatu terkait HAM di seluruh dunia. Laporan berjudul "2021 Country Reports on Human Rights Practices" itu mencakup hak-hak individu, sipil, politik, dan pekerja yang diakui secara internasional, seperti yang tertuang dalam Deklarasi Universal HAM dan kesepakatan internasional lainnya.
 
Dalam laporan HAM terbaru ini, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken sempat menyinggung mengenai berlanjutnya konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina.
 
"Ini kedua kalinya saya turut meluncurkan laporan ini saat menjabat sebagai Menteri, karena laporan ini penting bagi kebijakan luar negeri Amerika Serikat; penting bagi departemen; penting bagi saya secara pribadi," ucap Menlu AS Antony Blinken dalam keterangan di situs Kedutaan Besar AS di Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama bertahun-tahun, lanjut Blinken, dunia menyaksikan resesi mengkhawatirkan dari demokrasi, supremasi hukum, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di banyak negara di dunia. Menurutnya, sejak laporan ini terakhir diluncurkan, kemunduran terus berlanjut.
 
Blinken mengatakan bahwa di beberapa tempat, konsekuensi kemunduran terhadap perikemanusiaan terlihat begitu mencolok, seperti dalam perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina pada 24 Februari lalu.
 
"Kebenaran ini sangat nyata dalam beberapa minggu terakhir, ketika pasukan Rusia didorong mundur dari daerah-daerah dan kota-kota yang mereka duduki atau kepung, bukti-bukti kekejaman mereka yang tersebar luas semakin menggunung. Kita melihat apa yang ditinggalkan oleh gelombang surut ini – tubuh-tubuh, tangan-tangan terikat, ditelantarkan di jalanan; teater, stasiun kereta api, gedung apartemen menjadi puing-puing dengan penduduk sipil di dalamnya," sebut Blinken.
 
"Kita mendengar kesaksian para perempuan dan anak perempuan yang diperkosa serta para warga sipil yang terkepung dilanda kelaparan dan mati kedinginan," sambung dia.
 
Ukraina bukan satu-satunya tempat yang mengalami pelanggaran berat di dunia. Blinken mengeklaim komunitas internasional terus menyoroti pelanggaran HAM di mana pun itu terjadi, serta mendorong urgensi yang sama untuk menghentikan pelanggaran tersebut dan meminta pertanggungjawaban para pelaku.
 
"Amerika Serikat juga mempunyai cita-cita yang sama. Laporan ini hanyalah salah satu upaya kami untuk mencapainya," sebut Blinken.
 
Laporan HAM AS berisi bab-bab tersendiri yang membahas 200 negara dan teritorial. Setiap bab diklaim AS menyuguhkan informasi faktual, objektif, dan menyeluruh terkait data HAM yang diakui secara internasional. "Apakah suatu negara adalah teman atau memiliki perbedaan nyata dengan kami, tolok ukur yang digunakan adalah sama," tutur Blinken.
 
Blinken mengatakan hal tersebut mencerminkan prinsip pokok HAM, yaitu bersifat universal. Orang-orang dari setiap bangsa, ras, jenis kelamin, disabilitas, dan usia berhak atas hak-hak ini, terlepas dari apa yang mereka yakini, siapa yang mereka cintai, atau karakteristik lainnya.
 
"Hal ini sangat penting karena sejumlah pemerintah terus mengeklaim secara keliru, bahwa hak asasi manusia perlu diterapkan berdasarkan konteks lokal. Secara kebetulan, banyak pemerintah seperti inilah yang merupakan pelanggar HAM terburuk," pungkas Blinken.
 
Baca:  AS Sebut PeduliLindungi Terindikasi Langgar HAM, Kok Bisa?
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif