Dalam tulisannya di Twitter, Musk pernah menyarankan agar referendum di empat wilayah Ukraina diulang namun dengan melibatkan pihak eksternal seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Musk dituduh sempat berbicara dengan Putin sebelum menuliskan sarannya tersebut.
Tuduhan terhadap Musk disampaikan Ian Bremmer, ilmuwan politik dan kepala perusahaan Eurasia Group pada Senin lalu. Dalam sebuah catatan kepada klien, Bremmer mengklaim bahwa Musk, CEO perusahaan Tesla, telah berbicara dengan Putin sebelum menulis pernyataan di Twitter pekan lalu.
Ucapan Bremmer muncul di media Vice News, dan Musk pun melayangkan bantahan pada Selasa kemarin.
"Saya hanya pernah berbicara dengan Putin satu sekali, dan itu pun sekitar 18 bulan lalu. Perbincangan kala itu hanya seputar luar angkasa," tulis Musk di Twitter, seperti dikutip dari laman New York Post pada Rabu, 12 Oktober 2022.
Menurut Musk, membicarakan rencana perdamaian dengan Vladimir Putin merupakan hal yang sia-sia. Ia menilai saat ini tidak ada titik kompromi apa pun antar Rusia dan Ukraina.
Meski ada bantahan, Bremmer tetap berpegang teguh pada pengakuannya bahwa Musk pernah berbicara dengan Putin seputar perang Rusia-Ukraina.
"Elon Musk mengatakan kepada saya bahwa dia telah berbicara secara langsung dengan Putin dan Kremlin tentang Ukraina. Dia juga memberi tahu saya apa itu 'garis merah' Kremlin," ujar Bremmer.
"Saya telah menulis buletin mingguan saya tentang geopolitik selama 24 tahun. Saya menulis dengan jujur dan tanpa rasa takut. Saya sudah lama mengagumi Musk sebagai pengusaha unik. Dia bukan ahli geopolitik," tambahnya. (Gabriella Carissa Maharani Prahyta)
Baca: Elon Musk dan Presiden Ukraina 'Adu Mulut' di Twitter, Siapa yang Menang?
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News