Polisi bersiaga di lokasi penembakan terhadap seorang pendeta Ortodoks di Lyon, Prancis pada Sabtu, 31 Oktober 2020. (Jeff Pachoud/AFP/Getty)
Polisi bersiaga di lokasi penembakan terhadap seorang pendeta Ortodoks di Lyon, Prancis pada Sabtu, 31 Oktober 2020. (Jeff Pachoud/AFP/Getty)

Tersangka Penembak Pendeta Ortodoks di Prancis Dibebaskan

Internasional prancis Kartun Nabi Muhammad Emmanuel Macron Pembunuhan di Nice
Willy Haryono • 02 November 2020 06:40
Lyon: Kepolisian Lyon membebaskan tersangka awal dalam penembakan terhadap seorang pendeta kristen Ortodoks pada Minggu, 1 November. Kantor kejaksaan Lyon di Prancis tidak menemukan bukti keterlibatan pria tersebut, yang artinya, pelaku sebenarnya masih berkeliaran bebas di luar sana.
 
Penembakan terjadi saat pendeta asal Yunani itu sedang menutup gerejanya pada Sabtu kemarin. Ia terluka parah akibat terkena tembakan di bagian liver.
 
Baca:  Turki Kecam Penembakan terhadap Pendeta di Lyon Prancis

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Otoritas Lyon telah membuka investigasi mengenai percobaan pembunuhan. Sejumlah laporan mengindikasikan kemungkinan adanya motif personal di balik penembakan tersebut.
 
Dilansir dari laman BBC pada Senin, 2 November 2020, kantor kejaksaan Lyon mengaku masih mempertimbangkan semua hipotesis terkait penembakan tersebut. Penembakan di Lyon terjadi sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Polisi mengatakan, pelaku menggunakan senjata jenis sawn-off shotgun.
 
Nicolas Jacquet, jaksa penuntut umum Lyon, mengatakan bahwa seorang individu yang mirip dengan deskripsi sejumlah saksi telah ditahan polisi pada Sabtu malam. Namun satu hari berselang, tersangka dibebaskan karena investigator tidak memiliki bukti jika dirinya terkait dengan penembakan.
 
Korban penembakan, pendeta bernama Nikolas Kakavelakis, dikabarkan berada dalam kondisi serius di sebuah rumah sakit di Lyon. "Kami berharap korban segera sembuh, dan kami mengutuk segala bentuk kekerasan," ucap pernyataan Gereja Ortodoks Yunani di Prancis.
 
Insiden pada Sabtu kemarin terjadi beberapa hari usai tiga orang tewas dibunuh dalam penikaman di sebuah gereja di kota Nice.
 
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut penikaman di Nice sebagai "serangan teroris." Ia mengerahkan ribuan tambahan prajurit ke sejumlah ruang publik, termasuk tempat ibadah.
 
Penikaman di Nice diyakini masih terkait dengan kontroversi kartun Nabi Muhammad buatan majalah Charlie Hebdo.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif