Ilustrasi penembakan. (medcom.id)
Ilustrasi penembakan. (medcom.id)

Studi: Tingkat Kematian akibat Senjata Api di AS Tertinggi dalam 3 Dekade

Medcom • 30 November 2022 18:05
Washington: Tingkat kematian akibat senjata api di Amerika Serikat (AS) tahun lalu mencapai angka tertinggi dalam hampir tiga dekade, menurut sebuah studi terbaru yang dirilis pada Selasa, 29 November 2022. Disebutkan juga bahwa angka kematian akibat senjata api di kalangan perempuan, terutama yang berkulit hitam, tumbuh lebih cepat dibanding laki-laki.
 
Meski kematian di kalangan perempuan cenderung meningkat, mayoritas korban tewas penembakan di seantero AS sepanjang 2021 masih didominasi pria.
 
"Wanita berpotensi tidak dibicarakan dalam diskusi (kekerasan senjata api) karena begitu banyak yang tewas adalah pria," kata salah satu penulis studi, Dr. Eric Fleegler dari Harvard Medical School, dalam kutipan Los Angeles Times, pada Selasa, 29 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di antara wanita kulit hitam, tingkat pembunuhan terkait senjata api di AS meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2010, dan tingkat bunuh diri terkait senjata api melonjak hingga lebih dari dua kali lipat sejak 2015, tulis Fleegler dan rekan penulisnya dalam studi yang diterbitkan JAMA Network Open. 
 
Penelitian ini adalah salah satu analisis paling komprehensif tentang kematian akibat senjata api di AS selama bertahun-tahun, kata David Hemenway, direktur Pusat Penelitian Kontrol Cedera di Universitas Harvard.
 
Oktober lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merilis data kematian senjata api di AS tahun lalu, dengan angka lebih dari 47.000 -- paling banyak dalam setidaknya 40 tahun terakhir.
 
Populasi warga AS tumbuh, tetapi para peneliti mengatakan tingkat kematian akibat senjata api juga meburuk. Tingkat pembunuhan dan bunuh diri terkait senjata api di AS naik 8 persen tahun lalu, masing-masing mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal 1990-an. Dalam studi terbaru, para peneliti memeriksa tren kematian senjata api sejak 1990.
 
Mereka menemukan fakta bahwa kematian akibat senjata api mulai meningkat secara stabil pada 2005. Tetapi laju peningkatan tersebut menjadi semakin cepat baru-baru ini, dengan lonjakan 20 persen dari tahun 2019 ke 2021.
 
Mengapa kematian akibat senjata meningkat api secara dramatis selama pandemi COVID-19? 
 
"Pertanyaan langsung dengan jawaban yang mungkin rumit. Tidak ada yang benar-benar tahu jawabannya," kata Fleegler, seorang dokter dari Rumah Sakit Anak Boston.
 
Faktor-faktornya dapat mencakup gangguan pekerjaan dan kehidupan pribadi orang, penjualan senjata yang lebih tinggi, stres dan masalah kesehatan mental.
 
Para peneliti menghitung lebih dari 1,1 juta kematian akibat senjata api selama 32 tahun – hampir sama dengan jumlah kematian warga AS yang dikaitkan dengan Covid-19 dalam tiga tahun terakhir. Hanya sekitar 14 persen dari mereka yang terbunuh oleh senjata api di AS adalah perempuan, tetapi peningkatan angka di antara mereka lebih terasa.
 
Ada sekitar 7 kematian akibat senjata api per 100.000 wanita tahun lalu di AS, naik dari sekitar 4 per 100.000 di 2010 (naik 71 persen). Peningkatan sebanding untuk laki-laki adalah 45 persen, angka ini meningkat menjadi sekitar 26 per 100.000 dari sekitar 18 per 100.000 pada tahun 2010.
 
Untuk perempuan kulit hitam, tingkat bunuh diri senjata api naik dari sekitar 1,5 per 100.000 pada 2015 menjadi sekitar 3 per 100.000 tahun lalu. Tingkat kematian pembunuhan mereka tahun lalu lebih dari 18 per 100.000, dibandingkan sekitar 4 per 100.000 untuk wanita etnis Latin dan 2 per 100.000 untuk wanita kulit putih. 
 
Tingkat pembunuhan senjata api tertinggi tetap berada di kalangan pemuda kulit hitam, yaitu 142 per 100.000 untuk mereka yang berusia 20-an tahun. Tingkat kematian akibat bunuh diri akibat senjata api tertinggi terjadi pada pria kulit putih di awal usia 80-an, yaitu 45 per 100.000, kata para peneliti.
 
Dalam sebuah komentar yang menyertai penelitian tersebut, tiga peneliti Universitas Michigan mengatakan bahwa studi tersebut mengonfirmasi perbedaan ras dan gender dalam kematian akibat senjata di AS, dan bahwa kematian karena pembunuhan terkonsentrasi di kota-kota, dan bunuh diri lebih sering terjadi di pedesaan.
 
"Kekerasan senjata api adalah masalah yang memburuk di Amerika Serikat," tulis ketiga peneliti. (Mustafidhotul Ummah)
 
Baca:  Joe Biden Sebut Penembakan Massal Menodai Jiwa Amerika
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif