Halaman utama beberapa surat kabar menampilkan artikel skandal vaksin Covid-19 di Lima, Peru pada 15 Februari 2021. (Ernesto BENAVIDES/AFP)
Halaman utama beberapa surat kabar menampilkan artikel skandal vaksin Covid-19 di Lima, Peru pada 15 Februari 2021. (Ernesto BENAVIDES/AFP)

Hampir 500 Pejabat Peru Diam-Diam Disuntik Vaksin Covid-19

Internasional Virus Korona peru covid-19 pandemi covid-19 vaksin covid-19 Vaksinasi covid-19 Sinopharm
Willy Haryono • 16 Februari 2021 12:57
Lima: Presiden interim Peru Francisco Sagasti mengatakan bahwa 487 pejabat negara telah menyalahgunakan jabatan mereka untuk menerima suntikan vaksin Covid-19. Skandal ini telah membuat menteri luar negeri dan kesehatan Peru mengundurkan diri.
 
Sagasti mengatakan, nama-nama pejabat Peru yang diduga telah menerima vaksin Sinopharm telah diserahkan ke kejaksaan.
 
"Orang-orang yang merupakan bagian dari pemerintahan ini telah gagal menjalankan tugas mereka sebagai pelayan rakyat," kata Sagasti dalam pidato di televisi, dikutip dari laman Global News pada Selasa, 16 Februari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengaku geram atas sikap "para pejabat publik yang memanfaatkan jabatan" demi keuntungan pribadi.
 
Baca:  Setelah Menkes, Giliran Menlu Peru Mundur Terkait Skandal Vaksin
 
Jajaran partai oposisi di Kongres Peru berencana menggelar pertemuan pada Selasa ini untuk menentukan apakah perlu adanya pembentukan komisi khusus terkait skandal vaksin. 
 
Terkuaknya skandal vaksin memicu kemarahan warga Peru, terutama di kalangan tenaga kesehatan yang berjuang di garda terdepan dalam memerangi pandemi Covid-19. Skandal ini juga mencoreng citra mantan presiden Martin Vizcarra, yang diam-diam telah disuntik vaksin Sinopharm bersama istrinya.
 
Menlu Elizabeth Astete, Menkes Pilar Mazzetti, dan dua wakil menteri yang terlibat penanganan Covid-19 di Peru telah mengundurkan diri dalam beberapa hari terakhir.
 
Dalam sebuah surat pengunduran diri pada Minggu kemarin, Astete mengaku telah diam-diam menerima suntikan vaksin Sinopharm pada Januari lalu.
 
"Saya sadar atas kesalahan serius yang telah saya buat, itulah mengapa saya memutuskan untuk tidak menerima dosis kedua," sebut Astete. Peru telah membeli vaksin Sinopharm pada awal Januari tahun ini.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif