Polisi Belarusia menggunakan meriam air berwarna untuk menandai demonstran yang akan ditangkap dalam aksi protes di Minsk pada Minggu, 11 Oktober 2020. (AFP/STR)
Polisi Belarusia menggunakan meriam air berwarna untuk menandai demonstran yang akan ditangkap dalam aksi protes di Minsk pada Minggu, 11 Oktober 2020. (AFP/STR)

Polisi Belarusia Gunakan Meriam Air Berwarna untuk Tangkap Pedemo

Internasional Politik Belarusia Alexander Lukashenko
Willy Haryono • 12 Oktober 2020 07:10
Minsk: Polisi antihuru-hara Belarusia menggunakan meriam air dan granat kejut untuk membubarkan aksi unjuk rasa terbaru di Minsk dan beberapa kota lainnya pada Minggu, 11 Oktober 2020. Tuntutan demonstran sejauh ini masih sama, yakni mendesak mundur Presiden Alexander Lukashenko yang dinilai berbuat curang dalam pemilihan umum Agustus lalu.
 
Dalam aksi protes di Minsk, polisi menggunakan air berwarna yang disemprotkan dari meriam. Air berwarna bertujuan agar aparat dapat menangkap sejumlah demonstran secara spesifik.
 
Menurut sejumlah tokoh oposisi, dikutip dari laman BBC, taktik yang digunakan kepolisian Belarusia bersifat represif dan juga brutal. Mereka menyebut banyak pengunjuk rasa yang dipukuli dan juga dijebloskan ke penjara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat sama-sama menolak mengakui kemenangan Lukashenko dalam pilpres dua bulan lalu. Lukashenko membantah telah berbuat curang, dan mengatakan raihan 80 persen lebih suara dalam pilpres kemarin adalah aspirasi rakyat.
 
Namun capres oposisi Svetlana Tikhanovskaya mengklaim bahwa dirinya meraih 60-70 persen suara jika pilpres Belarusia tidak diwarnai kecurangan. Tikhanovskaya mengungsi ke Lithuania usai pilpres dengan alasan untuk menjaga anak-anaknya.
 
Sabtu kemarin, kubu oposisi berharap dapat mencapai sebuah resolusi damai usai Lukashenko secara mengejutkan menemui beberapa tahanan politik di sebuah penjara. Di sana, ia berdialog selama lebih kurang 4,5 jam.
 
Sebuah foto dari kantor berita memperlihatkan Lukashenko duduk di sebuah meja dengan 11 tokoh politik. Salah satu dari mereka adalah Viktor Babaryko, seorang bankir yang awalnya dipandang sebagai rival terkuat Lukashenko dalam pilpres. Babaryko dihalangi untuk mengikuti pilpres dan dijebloskan ke penjara pada Juli lalu.
 
Liliya Vlasova, seorang pengacara dan anggota Dewan Koordinasi dari kubu oposisi, juga hadir dalam pertemuan. Hadir pula Vitali Shkliarov, tokoh keturunan Belarusia-Amerika yang pernah bekerja di tim kampanye Senator Vermont, Bernie Sanders.
 
"Saya tidak hanya mencoba untuk meyakinkan para pendukung Anda, tapi juga seluruh masyarakat. Kita perlu memikirkan hal ini dalam skala yang lebih luas lagi," ucap Lukashenko dalam sebuah video singkat yang diunggah media.
 
Merujuk pada aksi protes masif di Belarusia, Lukashenko terdengar berbicara, "Anda tidak bisa menuliskan ulang konstitusi di jalanan." Di akhir video, sejumlah orang terlihat menertawakan sesuatu.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif