Hadi Matar, tersangka penikaman novelis terkenal Salman Rushdie./AFP
Hadi Matar, tersangka penikaman novelis terkenal Salman Rushdie./AFP

Tersangka Penikam Salman Rushdie Kembali Akui Tak Bersalah

Marcheilla Ariesta • 19 Agustus 2022 07:48
New York: Pria yang dituduh menikam novelis Salman Rushdie pekan lalu di New York mengaku tidak bersalah atas percobaan pembunuhan tingkat dua dan penyerangan dalam sidangnya Kamis, 18 Agustus kemarin. Ia saat ini ditahan tanpa jaminan.
 
Hadi Matar (24) dituduh melukai Rushdie (75) pada Jumat lalu, sebelum penulis The Satanic Verses itu menyampaikan kuliahnya di atas panggung dekat Danau Erie.
 
Rushdie dirawat di rumah sakit dengan luka serius akibat 10 tikaman yang diterima dirinya. Penyerangan pada Rushdie mendapat kecaman keras dari para penulis lain dan politisi di seluruh dunia sebagai serangan terhadap kebebasan berekspresi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Matar didakwa di Gedung Pengadilan Chautauqua. Dewan juri yang mendakwanya dengan satu dakwaan percobaan pembunuhan tingkat dua, yang membawa hukuman maksimum 25 tahun penjara, dan satu dakwaan serangan.
 
Dia telah berada di penjara sejak penangkapannya dan mengenakan jumpsuit bergaris abu-abu, masker wajah putih dan tangannya diborgol. Hakim David Foley memerintahkan Matar untuk tidak melakukan kontak dengan Rushdie dan menyetujui permintaan pengacara pembelanya untuk mengeluarkan perintah pembungkaman sementara yang melarang para pihak membahas kasus tersebut di media.
 
"Dia mengatakan akan mempertimbangkan permintaan pembela untuk membebaskan Matar dengan jaminan," lapor AFP, Jumat, 19 Agustus 2022.
 
Matar akan kembali untuk sidang lagi bulan depan.
 
Baca juga: Tersangka Penikaman Salman Rushdie Akui Hormati Eks Pemimpin Tertinggi Iran
 
Serangan itu terjadi 33 tahun setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin tertinggi Iran saat itu, mengeluarkan fatwa, yang menyerukan umat Islam untuk membunuh Rushdie beberapa bulan setelah "The Satanic Verses" diterbitkan. Beberapa Muslim melihat ayat-ayat tentang Nabi Muhammad sebagai penghujatan.
 
Rushdie, yang lahir di India dari keluarga Muslim Kashmir, menghabiskan sembilan tahun bersembunyi di bawah perlindungan polisi Inggris. Pada 1998, pemerintah pro-reformasi Iran dari Presiden Mohammad Khatami menjauhkan diri dari fatwa tersebut, dengan mengatakan bahwa ancaman terhadap Rushdie telah berakhir.
 
Tetapi hadiah jutaan dolar telah berkembang dan fatwa tidak pernah dicabut: penerus Khomeini, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, diblokir dari Twitter pada 2019 karena mengatakan fatwa terhadap Rushdie "tidak dapat dibatalkan".
 
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh New York Post, Matar mengatakan dia menghormati Khomeini tetapi tidak akan mengatakan apakah dia terinspirasi oleh fatwa tersebut. Dia mengatakan dia telah "membaca beberapa halaman" dari The Satanic Verses dan menonton video YouTube dari penulisnya.
 
"Saya tidak terlalu menyukainya," kata Matar tentang Rushdie, seperti dilansir Post. "Dia adalah seseorang yang menyerang Islam, dia menyerang kepercayaan mereka, sistem kepercayaan."
 
Kementerian luar negeri Iran mengatakan pada hari Senin bahwa Teheran tidak boleh dituduh terlibat dalam serangan itu. Sementara itu, polisi mengatakan, Matar diyakini bertindak sendiri.
 
Matar adalah seorang Muslim Syiah yang lahir di California dari sebuah keluarga dari Lebanon. Jaksa mengatakan, dia pergi ke Chautauqua Institution, tempat peristirahatan sekitar 19 kilometer dari Danau Erie, di mana dia izin untuk mengikuti kuliah Rushdie.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif