"Kami tidak pernah merasa lemah. Berdasarkan rekam jejak kami, Nevada sudah pernah melawan Trump," seru Ford, dilansir dari CNN, Kamis, 5 November 2020.
Nevada pernah berhadapan dengan Trump di pengadilan terkait masalah pemilu. Ia mengaku pernah digugat setidaknya dua hingga tiga kali.
"Setiap kami digugat, kami bisa bekerja sama dengan jaksa wilayah dan melawan gugatan tersebut," imbuhnya.
Ia menambahkan, gugatan terakhir yang dilayangkan ke Nevada terjadi bulan lalu. Tim kampanye Trump dan Partai Republik mendesak agar surat suara yang sudah masuk berhenti dihitung.
Namun, gugatan Trump tersebut ditolak.
Baca: Langkah yang Bisa Ditempuh Jika Tak Terima Hasil Pilpres AS
Tim kampanye Trump mengklaim perangkat komputer yang dipakai untuk mencocokkan tanda tangan pemilih tidak bekerja dengan optimal.
"Kami memiliki pengaman untuk mencegah kecurangan, seperti verifikasi tanda tangan dan kode barcode unik yang juga menjadi bagian proses ini," kata Ford.
Ford optimistis mekanisme penghitungan suara yang dilakukan di Nevada bisa melawan tuntutan Trump dan timnya.
Hingga saat ini, beberapa negara bagian, termasuk Nevada, masih melakukan penghitungan suara. Pennsylvania dan Georgia yang masuk dalam swing states juga masih terus melakukan penghitungan.
Trump sempat mengklaim kemenangannya usai berhasil mengamankan Florida, walau penghitungan suara di sejumlah negara bagian masih berjalan. Dengan mengklaim adanya kecurangan, ia kemudian meminta agar penghitungan suara di tiga negara bagian dihentikan.
Hingga saat ini, Joe Biden dari Partai Demokrat masih unggul dengan perolehan 264 suara electoral college, sementara Trump 214. Untuk suara populer, Biden mengantongi 72.125.883 suara, sementara Trump 68.780.928 suara.
Untuk menang dalam pilpres AS, seorang kandidat harus mencapai setidaknya 270 suara electoral college.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News