Dalam demonstrasi yang digelar Stop the War Coalition di Portland Place, London, para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan anti-perang, sembari memegang spanduk menentang pengiriman lebih banyak senjata ke Ukraina dan juga Rusia. Kelompok itu kemudian berbaris menuju alun-alun Trafalgar.
Jeremy Corbyn, mantan pemimpin Partai Buruh dan anggota parlemen untuk Islington North, termasuk di antara peserta aksi protes anti-perang.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Dalia Sanchez, seorang aktivis anti-perang, mengatakan bahwa dirinya hanya ingin melihat akhir perang karena begitu banyak orang kehilangan nyawa, terlepas dari pihak mana mereka berada.
"Saya tidak setuju dengan pengiriman senjata (ke Ukraina) karena itu hanya akan memperpanjang perang," lanjutnya, dikutip dari laman Farsnews, Minggu, 26 Februari 2023. Ia menambahkan bahwa NATO dan Rusia harus terlibat dalam pembicaraan untuk mencegah lebih banyak eskalasi dan kematian.
"Tidak perlu perang," kata Sanchez, seraya menambahkan bahwa situasi saat ini adalah akibat dari "diplomasi yang gagal."
John Clark, peserta demonstrasi lainnya, juga mengatakan bahwa ekspansi NATO ke wilayah timur Eropa merupakan langkah yang tidak tepat.
"Saya di sini, hari ini, hanya karena saya pikir kita perlu menghentikan penjual perang, dan kita perlu mempertimbangkan kembali apa yang terjadi," tambahnya.
"Saya ingin melihat gencatan senjata dan berbicara untuk perdamaian," ungkap Clark. "Kita harus mengirim diplomat, bukan senjata."
Berbicara juga kepada Anadolu, Talia, seorang aktivis yang hanya memberikan nama depannya, mengatakan bahwa, "Amerika Serikat (AS) memanipulasi dunia untuk kepentingannya sendiri."
"Saya pikir kita harus berhenti mengirim senjata, kita harus mulai berbicara, karena itu tidak memberi kita solusi," lanjutnya. "Kita perlu memahami bahwa Rusia adalah negara yang besar dan kuat, dan memiliki nuklir."
Sementara itu, sekelompok orang lainnya mengadakan protes balasan di London, menyerukan peningkatan pasokan militer ke Ukraina dalam perjuangannya melawan Rusia.
Meneriakkan slogan-slogan pro-Ukraina, kelompok itu terlihat memegang spanduk, menyerukan mempersenjatai Ukraina untuk menghentikan Rusia.
Perang Rusia di Ukraina telah memasuki tahun kedua dengan sedikitnya 8.000 warga sipil tewas, menurut PBB. Sejak awal invasi hingga kini, negara-negara Barat berdiri bersama Ukraina dan terus memasok senjata untuk melawan Rusia.
Baca juga: Ditolak Tiongkok, G20 Gagal Adopsi Pernyataan Bersama Perang Rusia-Ukraina
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News