Ketua DPR AS Nancy Pelosi. (AFP)
Ketua DPR AS Nancy Pelosi. (AFP)

Demokrat akan Coba Makzulkan Lagi Donald Trump

Internasional amerika serikat joe biden donald trump Pilpres AS 2020 Pelantikan Joe Biden Inagurasi Joe Biden Pendukung Trump Rusuh
Willy Haryono • 09 Januari 2021 11:02
Washington: Partai Demokrat Amerika Serikat berencana menghadirkan kembali artikel pemakzulan terhadap presiden Donald Trump atas perannya dalam kekacauan yang terjadi di Gedung Capitol pada Rabu kemarin. Sebelumnya pada 2019, Demokrat pernah memakzulkan Trump di Dewan Perwakilan Rakyat, meski pada akhirnya ditolak di level Senat.
 
Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, dirinya akan segera memproses upaya pemakzulan ini jika Trump tidak segera mengundurkan diri.
 
"Dakwaan terkait penghasutan berujung huru-hara" akan dihadirkan oleh Demokrat di DPR pada Senin mendatang," kata Pelosi, dilansir dari laman BBC pada Sabtu, 9 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Demokrat menuduh Trump telah memicu terjadinya kericuhan di Gedung Capitol yang telah menewaskan lima orang. Satu dari lima orang yang tewas adalah polisi.
 
Presiden terpilih AS Joe Biden menilai, pemakzulan merupakan sesuatu yang diputuskan Kongres. Namun ia merasa bahwa "sejak lama Trump memang tidak layak memegang jabatan (presiden)."
 
Gedung Putih mengecam rencana pemakzulan sebagai suatu langkah "bernuansa politik" yang hanya akan "semakin memecah-belah negara kita."
 
Jika proses pemakzulan dilanjutkan, maka ini akan menjadi kali kedua DPR AS yang dikuasai Demokrat akan mencoba melengserkan Trump. Pemakzulan pertama dilakukan Demokrat pada Desember 2019, namun dihentikan Senat pada Februari 2020.
 
Selama ini belum pernah ada satu pun presiden di AS yang dua kali dimakzulkan. Namun, kemungkinan terjadinya pemakzulan relatif kecil karena mayoritas Senat dipenuhi politisi Partai Republik.
 
Ini artinya, percobaan pemakzulan untuk kali kedua oleh Demokrat hanya akan menjadi kecaman simbolis atas peran Trump dalam penyerbuan massa pendukungnya ke Gedung Capitol.
 
Sementara itu, akun Twitter Trump ditutup permanen setelah sempat dikunci selama 12 jam. Twitter mengatakan akun Trump harus ditutup usai mempertimbangkan "potensi terjadinya penghasutan aksi kekerasan lebih lanjut."
 
Baca:  Trump Tak Akan Hadir di Pelantikan Biden
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif