Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. (Medcom.id)
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. (Medcom.id)

Hikmahanto: RI Tak Perlu Dukung atau Kecam Hasil Referendum 4 Wilayah Ukraina

Willy Haryono • 01 Oktober 2022 08:46
Jakarta: Pemerintah Rusia telah meresmikan pencaplokan empat wilayah pendudukan di Ukraina melalui sebuah seremoni yang dipimpin Presiden Vladimir Putin di Moskow pada Jumat, 30 September. Putin menegaskan bahwa hasil referendum di empat wilayah Ukraina tersebut -- Kherson, Zaporizhzhia, Luhansk dan Donetsk -- adalah keinginan jutaan warga.
 
Komunitas global pun bereaksi atas langkah terbaru Rusia tersebut. Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia 
"perlu mengambil sikap mempertahankan status quo."
 
"Status quo yang diambil oleh Indonesia adalah tidak mendukung maupun mengecam hasil referendum," ucap Hikmahanto Juwana, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id pada Sabtu, 1 Oktober 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sikap mempertahankan status quo karena Indonesia sebagai Presiden G20 ingin memfasilitasi pertemuan antara pihak-pihak yang berseteru di Bali pada pelaksanaan KTT G20 di bulan November," sambungnya.
 
Pemerintah Indonesia telah mengundang Rusia dan juga Ukraina untuk menghadiri KTT G20 tahun ini. Undangan telah disampaikan kepada Rusia sebelum Negeri Beruang Merah itu melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari.
 
Sejak invasi Rusia, Indonesia berusaha menjadi "juru damai" untuk mengakhiri konflik yang berimbas pada lonjakan harga energi dan pangan.
 
"Indonesia perlu mengambil posisi tidak berpihak agar para pihak yang berseteru nyaman melakukan pembicaraan dan menyepakati solusi pengakhiran perang," tutur Hikmahanto.
 
Selain itu, "Indonesia juga perlu menyerukan kepada masyarakat internasional terkait referendum, termasuk pihak-pihak yang bersengketa, agar tidak terjadi eskalasi perang."
 
"Bagi Indonesia, eskalasi perang akan merugikan dunia, utamanya negara-negara berkembang," pungkas Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani itu.
 
Baca:  Umumkan Pencaplokan 4 Wilayah Ukraina, Putin: Selamanya Milik Rusia
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif