Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara mengenai empat wilayah Ukraina yang telah dianeksasi di Moskow, 30 September 2022. (Sergei KARPUKHIN / SPUTNIK / AFP)
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara mengenai empat wilayah Ukraina yang telah dianeksasi di Moskow, 30 September 2022. (Sergei KARPUKHIN / SPUTNIK / AFP)

Umumkan Pencaplokan 4 Wilayah Ukraina, Putin: Selamanya Milik Rusia

Willy Haryono • 01 Oktober 2022 08:09
Moskow: Presiden Vladimir Putin telah menandatangani "perjanjian aksesi" yang meresmikan aneksasi "ilegal" Rusia atas empat wilayah pendudukan di Ukraina pada Jumat, 30 September 2022. Langkah ini menandai perebutan kekuasaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
 
Seremoni penandatanganan, dilakukan di tengah penentangan komunitas global, berlangsung di Grand Kremlin Palace di hadapan jajaran elite politik Rusia, usai berlangsungnya referendum di Kherson, Zaporizhzhia, Luhansk dan Donetsk.
 
Putin memulai seremoni dengan pidato panjang bernada marah, di mana dirinya menyampaikan ancaman nuklir dan janji "melindungi" empat wilayah yang baru saja dicaplok dari Ukraina "dengan segala kekuatan."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Orang-orang sudah membuat pilihan mereka. Ini adalah keinginan jutaan orang," kata Putin, dikutip dari laman Guardian. Ia enambahkan bahwa masyarakat di empat wilayah pendudukan di Ukraina itu akan "selamanya" menjadi milik Rusia.
 
Tak lama setelah itu, Putin menandatangani "perjanjian aksesi" di sebuah podium bersama kepala daerah dari empat wilayah Ukraina yang dianeksasi.
 
Setelah menandatangani perjanjian, para pemimpin berkumpul di sekitar Putin sembari meneriakkan yel-yel, "Rusia! Rusia!" dengan diiringi tepuk tangan audiens.
 
Pidato Putin, di mana dirinya mengecam "Barat" yang disebutnya berperilaku sebagai "setan," dipandang sejumlah pengamat sebagai pernyataan anti-Barat terkuatnya sejauh ini.
 
Putin mengendalikan persenjataan nuklir terbesar di dunia, termasuk generasi baru senjata hipersonik dan sepuluh kali lebih banyak senjata nuklir taktis daripada Barat, dan Amerika Serikat serta aliansi militer NATO menganggapnya serius.
 
"Jika pilihan bagi Rusia adalah kalah perang, dan kalah telak dan Putin jatuh, atau semacam demonstrasi nuklir, saya tidak berani bertaruh bahwa mereka tidak akan memilih demonstrasi nuklir," ujar Tony Brenton, mantan duta besar Inggris untuk Rusia, pada Agustus lalu.
 
Baca:  Ancaman Nuklir Putin, Kebenaran atau Hanya Gertakan Belaka?
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif