PM Swedia Magdalena Andersson. (Jonathan NACKSTRAND / AFP)
PM Swedia Magdalena Andersson. (Jonathan NACKSTRAND / AFP)

3 Tokoh Termasuk Petahana Bersaing Ketat dalam Pemilu Swedia

Willy Haryono • 11 September 2022 16:44
Stockholm: Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson, kepala oposisi konservatif Moderat Ulf Kristersson, dan pemimpin sayap kanan Jimmie Akesson bersaing ketat dalam pemilihan umum pada Minggu, 11 September 2022.
 
PM Andersson berkuasa pada November 2021 dengan tujuan memberikan kehidupan baru ke dalam Partai Sosial Demokrat. Ia juga memimpin Swedia dalam membawa negaranya masuk menjadi anggota NATO.
 
Magdalena Andersson adalah PM perempuan pertama di Swedia. Ia menggantikan Stefan Lofven yang pensiun dari dunia politik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Andersson adalah seorang mantan juara renang yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan selama tujuh tahun. Ia sempat dijuluki "Bulldozer" karena sikapnya yang blak-blakan.
 
Baca:  PM Swedia Mundur Beberapa Jam Usai Terpilih
 
Dikutip dari AFP, penantang utama Andersson, ketua Partai Moderat konservatif Ulf Kristersson, berharap dapat mengakhiri delapan tahun kekuasaan Sosial Demokrat.
 
Pria berusia 58 tahun itu optimistis dapat menang dan meraih mayoritas jumlah politisi yang ia butuhkan di parlemen. Seorang mantan pesenam dengan kacamata berbingkai tanduk dan berpenampilan rapi, Kristersson melakukan upaya keduanya untuk menjadi perdana menteri dalam pemilu Swedia kali ini.
 
Sementara itu dalam 17 tahun sebagai pemimpin partai, Jimmie Akesson telah mengarahkan sayap kanan Demokrat Swedia dari status terbuang ke kelas berat yang dukungannya sangat diperlukan jika blok sayap kanan ingin memerintah.
 
Dengan rambut cokelatnya yang ditata tanpa cela, kacamata, dan janggut yang dipangkas rapi, pria 43 tahun berpakaian santai itu terlihat seperti orang Swedia pada umumnya.
 
"Dia ingin memberi kesan bahwa dia orang biasa, yang memanggang sosis di akhir pekan, berbicara dengan normal, dan melakukan perjalanan wisata ke Kepulauan Canary," ucap Jonas Hinnfors, seorang profesor ilmu politik Universitas Gothenburg.
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif