Presiden Sudan Omar al-Bashir. (Foto: AFP)
Presiden Sudan Omar al-Bashir. (Foto: AFP)

Sudan Deklarasikan Status Darurat Nasional

Internasional konflik sudan
Willy Haryono • 23 Februari 2019 09:11
Khartoum: Presiden Sudan Omar al-Bashir mendeklarasikan status darurat nasional, membubarkan pemerintah federal dan memecat tiga menteri.
 
"Saya mendeklarasikan status darurat di seantero negeri selama satu tahun," kata Bashir dalam pidato di televisi, seperti dikutip kantor berita BBC, Sabtu 23 Februari 2019.
 
Sebelumnya, Badan Keamanan dan Intelijen Nasional Sudan (NISS) mengatakan Bashir akan mengundurkan diri. Dia merupakan fokus dari protes anti-pemerintah di Sudan dalam beberapa pekan kemarin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bashir telah meminta parlemen untuk menunda amandemen konstitusi yang dapat membuat dirinya kembali mencalonkan diri dalam pemilihan umum presiden. Amandemen merupakan salah satu pemicu kemarahan para pengunjuk rasa. Namun Bashir mengatakan demonstrasi anti-pemerintah adalah upaya menggoyang stabilitas negara.
 
Sebelumnya, Bashir menegaskan bahwa perubahan di pemerintahan Sudan hanya bisa dilakukan via kotak suara.
 
Demonstrasi di Sudan diawali dengan kekhawatiran warga mengenai melonjaknya harga roti dan bahan bakar minyak sejak Desember tahun lalu. Namun demo tersebut berubah menjadi penentangan terhadap Bashir, presiden yang telah berkuasa selama 30 tahun.
 
Lebih dari 1.000 orang dilaporkan telah ditangkap sejak aksi protes dimulai di Sudan. Sejumlah grup hak asasi manusia mengatakan lebih dari 40 orang telah dibunuh dalam bentrokan dengan aparat keamanan Sudan.
 
Sejumlah koordinator aksi protes bertekad akan melanjutkan demo hingga Bashir turun. Bashir, 75, selama ini tidak mengindikasikan akan mundur setelah beberapa kali memenangkan pilpres, sejak dirinya pertama kali berkuasa pada 1989.
 
September tahun lalu, Bashir memecat seluruh menteri kabinetnya untuk mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di negaranya. Dengan persetujuan dari Partai Kongres Nasional (NCP) yang berkuasa, Bashir memecat 31 menteri kabinet, termasuk Perdana Menteri Bakri Hassan Saleh.
 
"Situasi ekonomi perlu diselesaikan dan untuk itu Presiden Bashir memutuskan memotong pemerintah di semua tingkatan," kata staf Bashir kepada awak media, dilansir dari lamanDeutsche Welle, Senin 10 September 2018.
 
"Presiden Bashir memutuskan untuk memiliki pemerintah yang lebih kecil dengan 21 anggota," imbuhnya.
 
Sudan mengalami krisis ekonomi akut dengan inflasi meningkat menjadi 65 persen. Meski pun dilanda konflik, pertumbuhan tercatat sekitar enam persen antara 1998 dan 2008.
 
Mereka kehilangan banyak cadangan minyak ketika Sudan Selatan merdeka pada 2011.
 
Baca:Pecat Seluruh Menteri, Presiden Sudan Perkecil Kabinet
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif