Kematian Jurnalis Arab Saudi

Pejabat Saudi Bantah Khashoggi Telah Dimutilasi

Arpan Rahman 24 Oktober 2018 10:59 WIB
arab saudiJamal Khashoggi
Pejabat Saudi Bantah Khashoggi Telah Dimutilasi
Jamal Khashoggi dikenal sebagai pengkritik keluarga Kerajaan Arab Saudi. (Foto: AFP).
Istanbul: Hampir tiga pekan setelah kematiannya, pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi sekarang terkonfirmasi. Tapi masih misteri bagaimana hal itu terjadi dan siapa dalang di balik rencana brutal. Meskipun digelar penyelidikan bersama Turki-Saudi, kepemimpinan dan pejabat kedua negara berbicara kepada pers dengan detail yang berbeda.
 
Baca juga: Erdogan Minta 18 Pembunuh Khashoggi Diadili di Turki.
 
Ada banyak laporan yang menduga rincian tertentu berdasarkan sumber-sumber Turki. Sekarang, para pejabat Saudi muncul dengan sejumlah rincian terbatas dari "penyelidikan" mereka sendiri. Saudi semula bersikeras bahwa Khashoggi, seorang warga Amerika Serikat, telah meninggalkan konsulat Istanbul mereka tanpa cedera. Pekan lalu, kisah mereka berubah dan mengakui bahwa Khashoggi sudah dibunuh para agen Saudi di konsulat.
 
Pembunuhan Khashoggi versi Turki dan Saudi tidak cocok. Seorang pejabat Saudi yang telah melihat beberapa rincian dari penyelidikan yang sedang berlangsung mengatakan kepada CBS News bahwa tubuh Khashoggi digulung dalam karpet dan diberikan kepada "kolaborator lokal." Detail tersebut, kata pejabat itu, berasal dari pengakuan para tersangka selama proses penyelidikan internal.
 
Dikatakan bahwa Khashoggi tidak berpakaian, tetapi tubuhnya tidak dipotong-potong. Detail itu kontras dengan sejumlah laporan dari para pejabat Turki, bahwa mayat itu dipotong-potong. Salah seorang Saudi yang melakukan perjalanan ke Istanbul mengenakan pakaian Khashoggi setelah pembunuhannya, mengenakan jenggot palsu dan berjalan di sekitar area di luar untuk memperlihatkan bahwa Khashoggi telah meninggalkan konsulat tanpa cedera.
 
Para pejabat Saudi terus menuduh Jenderal Ahmed el Asiri, pejabat intelijen terkemuka di Arab Saudi, harus disalahkan atas pembunuhan Khashoggi. Dia dipecat oleh Kerajaan Saudi pada Jumat, bersama Saud al-Qahtani, yang merupakan pembantu utama Putra Mahkota Mohammad bin Salman.
 
Para pejabat Saudi mengatakan Asiri mengeluarkan apa yang dikenal sebagai perintah tugas internal kepresidenan umum (GIP), berdasarkan pada arahan umum sebelumnya untuk bernegosiasi dengan para pembangkang di luar negeri dan membawa mereka kembali ke Arab Saudi. Upaya itu, kata para pejabat, guna rekonsiliasi dengan para pembangkang secara damai dan mungkin mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Saudi.
 
Ada perintah tugas untuk berdamai dengan Khashoggi, yang telah menjadi pengkritik kepemimpinan Saudi meskipun punya hubungan dengan banyak pejabat pemerintah di Arab Saudi. Namun perintah tugas Khashoggi ditulis dengan "cara yang sangat ceroboh," kata seorang pejabat Saudi kepada CBS News. Tim yang bertugas, sebagai hasilnya, percaya harus menekan Khashoggi buat kembali ke Arab Saudi, terutama karena perintah itu termasuk rencana membawa Khashoogi ke rumah perlindungan selama 48 jam jika dia menolak pulang ke Arab Saudi bersama mereka.
 
Menurut pihak Saudi, tim mereka membawa pejabat Saudi Maher Mutreb ke konsulat karena dia memiliki hubungan sebelumnya dengan Khashoggi. Mutreb kemudian menjelaskan niat tim itu membawa Khashoggi kembali ke Arab Saudi.
 
Baca juga: Terlibat Kasus Khashoggi, AS Cabut Visa 21 Pejabat Saudi.
 
Pejabat Saudi mengklaim bahwa Khashoggi menjadi marah ketika dia diminta kembali ke Arab Saudi. "Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan menculikku?" Khashoggi berkata kepada mereka, menurut pejabat Saudi.

Mutreb diduga menjawab bahwa mereka sebenarnya akan menculiknya dan membiusnya jika dia tidak setuju untuk pergi. Khashoggi mulai berteriak dan kemudian dicekik "demi mencegah dia berteriak." Ini menyebabkan dia cepat tewas. Pejabat itu tidak dapat menjawab mengapa ini terjadi begitu cepat, jika upaya itu untuk menenangkan Khashoggi dan bukan membunuhnya.
 
"Tidak ada perintah yang jelas untuk membunuhnya atau menculiknya," jelas pejabat Saudi itu, seperti dikutip dari CBS News, Selasa 23 Oktober 2018.
 
Presiden Turki Recep Erdogan menyebut kematian Khahoggi sebagai "pembunuhan biadab" dan meragukan bahwa aksi itu tidak direncanakan. Namun Erdogan mengungkapkan tidak ada rencana untuk mengumumkan bukti yang dimiliki Turki. Dia juga mengatakan bahwa para sumber Saudi belum menjawab banyak pertanyaan Turki.
 
"Mengapa konsulat tidak dibuka segera tetapi beberapa hari kemudian? Kami mencari jawaban. Ketika pembunuhan itu sangat jelas, mengapa begitu banyak pernyataan yang tidak konsisten dibuat? Mengapa jasad seseorang, dalam pembunuhan yang secara resmi diakui, belum ditemukan?" Erdogan bertanya.
 
Saudi mengklaim mereka tidak tahu di mana mayat Khashoggi sekarang. Mereka mengklaim berupaya menemukan rincian itu dan penyelidik Turki juga mencari. Para pejabat Saudi yang berbicara dengan CBS News tidak memiliki nama untuk "kolaborator lokal" yang didefinisikan sebagai orang yang mengambil mayat itu. Erdogan menyerukan agar Turki melacak identitas orang ini, jika orang itu benar-benar ada.
 
Ketika ditanya apakah pihak Saudi yakin bahwa jasad Khashoggi tidak kembali ke Arab Saudi, pejabat itu mengatakan yakin. Namun, pejabat itu mengklaim pesawat tidak digeledah ketika terbang ke Arab Saudi, -- jadi pernyataan itu tidak didukung dengan bukti sejauh ini. Para bangsawan Saudi belum mengatakan kapan mereka diberitahu bahwa Khashoggi telah meninggal.
 
"Kami memiliki fakta dan ingin melihat lebih banyak dari itu. Jika (temuan Turki) menguatkan temuan kami berarti itu bagus. Jika tidak, kami ingin melihatnya," kata pejabat Saudi tersebut.
 
Ketika ditanya apa yang akan dapat ditunjukkan oleh pihak Saudi buat mendukung bukti yang menguatkan versi cerita mereka, pejabat itu belum bisa mengatakannya, karena penyelidikan di pihak mereka sedang berlangsung.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id