Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun ditetapkan sebagai pemimpin baru sembilan hari setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan tersebut memicu meningkatnya konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Majelis Ahli Iran menyatakan keputusan tersebut diambil secara bulat oleh para anggotanya.
"Mojtaba Khamenei ditunjuk dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan suara mutlak dari para perwakilan Majelis Ahli yang terhormat," bunyi pernyataan resmi lembaga ulama tersebut.
| Baca juga: Nekat Lintasi Selat Hormuz, Kapal Tanker Minyak Dihantam Drone Iran |
Majelis juga menegaskan bahwa keputusan itu diambil tanpa keraguan sedikit pun, meskipun pihak AS menentang penunjukkan Mojtaba Khamenei.
"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ujar Trump kepada ABC News.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah Iran menegaskan bahwa penunjukan pemimpin negara merupakan urusan domestik yang tidak dapat dicampuri pihak luar. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan hal itu saat tampil dalam program Meet the Press di NBC.
Dalam kesempatan tersebut, Araghchi juga mendesak Trump untuk meminta maaf kepada masyarakat di kawasan Timur Tengah karena dinilai telah memicu konflik yang lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News