Insiden tersebut terjadi setelah kapal itu mengabaikan sejumlah peringatan dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terkait situasi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Dilansir kantor berita Tasnim, Kantor Huma IRGC menyatakan kapal tanker bernama Prima diserang drone setelah tidak mematuhi larangan melintas yang telah dikeluarkan otoritas setempat.
IRGC sebelumnya menetapkan status bahaya di Selat Hormuz menyusul meningkatnya eskalasi militer di kawasan Teluk.
Penutupan Selat Hormuz kini disebut telah memasuki hari kedelapan. Kebijakan tersebut diambil Teheran sebagai respons atas agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang menewakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Sejak penyerangan tersebut, otoritas Teheran melarang kapal tanker maupun kapal komersial yang beraliansi dengan negara-negara seteru untuk melintas di Selat Hormuz.
Serangan terhadap kapal Prima dinilai menjadi sinyal keras bagi lalu lintas maritim internasional. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi global yang kini disebut berada di bawah kendali penuh militer Iran.
Selat Hormuz memisahkan wilayah Iran dengan Uni Emirat Arab. Perairan ini berada di antara Teluk Oman dan Teluk Persia, dengan sebagian besar garis pantainya berada di wilayah Iran.
Jalur tersebut kerap disebut sebagai ‘arteri utama’ ekonomi global karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News