Ribuan orang berunjuk rasa di depan markas besar militer Sudan di Khartoum, Minggu 7 April 2019. (Foto: AFP/STR)
Ribuan orang berunjuk rasa di depan markas besar militer Sudan di Khartoum, Minggu 7 April 2019. (Foto: AFP/STR)

Ribuan Demonstran Terus Desak Mundur Presiden Sudan

Internasional konflik sudan
Arpan Rahman • 08 April 2019 13:44
Khartoum: Pasukan keamanan Sudan menembakkan gas air mata ke ribuan demonstran yang berkumpul di luar markas besar militer di Khartoum, Senin 8 April 2019. Aksi unjuk rasa warga di lokasi tersebut sudah memasuki hari ketiga, yang tujuan utamanya adalah mendesak mundur Presiden Sudan Omar al-Bashir.
 
Sejumlah kendaraan yang mengangkut personel keamanan datang sejak pagi hari di lokasi unjuk rasa. Menurut keterangan sejumlah saksi mata, para demonstran sudah berada di sana sejak Sabtu 6 April.
 
"Setelah pasukan keamanan datang, gas air mata ditembakkan ke arah demonstran," ucap seorang saksi mata kepada kantor berita AFP.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Imbas gas air mata dirasakan sejumlah warga di distrik Khartoum, sekitar lima kilometer dari markas besar militer. "Saya melihat bentrokan dari balkon rumah. Saya mendengar suara tembakan gas air mata, dan juga merasakan efek gas tersebut," tutur salah satu warga di Khartoum.
 
Markas besar militer di Khartoum dijadikan lokasi protes karena juga merupakan tempat berdirinya rumah Presiden Bashir. Sembari meneriakkan yel-yel anti-pemerintah, para pengunjuk rasa mengajak militer untuk mendukung mereka dan mendorong pengunduran diri Presiden Bashir.
 
Para demonstran menuduh pemerintahan Bashir sebagai penyebab utama merosotnya perekonomian Sudan, yang berimbas pada meroketnya harga pangan dan minimnya pasokan bahan bakar minyak serta valuta asing.
 
Sebelumnya, Presiden Bashir mengakui bahwa kekhawatiran demonstran mengenai perekonomian Sudan merupakan sesuatu yang "nyata."
 
Demonstrasi di Sudan diawali dengan kekhawatiran warga mengenai melonjaknya harga roti dan bahan bakar minyak sejak Desember tahun lalu. Namun demo tersebut berubah menjadi penentangan terhadap Bashir, presiden yang telah berkuasa selama 30 tahun.
 
Lebih dari 1.000 orang dilaporkan telah ditangkap sejak aksi protes dimulai di Sudan. Sejumlah grup hak asasi manusia mengatakan lebih dari 40 orang telah dibunuh dalam bentrokan dengan aparat keamanan Sudan.
 
Februari lalu, Presiden Bashir telah mendeklarasikan status darurat nasional, membubarkan pemerintah federal dan memecat tiga menteri.
 
"Saya mendeklarasikan status darurat di seantero negeri selama satu tahun," kata Bashir dalam pidato di televisi. Badan Keamanan dan Intelijen Nasional Sudan (NISS) mengatakan Bashir akan mengundurkan diri, meski tanggal pastinya tidak disebutkan.
 
Baca:Sudan Deklarasikan Status Darurat Nasional
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif