Dilansir dari laman ABC Asia pada Sabtu, 17 Oktober 2026, jumlah kasus gangguan pernapasan yang berkaitan dengan kebakaran hingga 13 Oktober mencapai 283.270 kasus di tujuh provinsi Indonesia. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 113.336 kasus yang dilaporkan pada 9 September, berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutip ABC Asia.
Situasi ini kembali menyoroti bahaya paparan polusi akibat karhutla, terutama partikel halus yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan.
Kasus Gangguan Pernapasan Melonjak, PM2.5 Bisa Masuk ke Aliran Darah
Asap karhutla yang melanda Sumatra dan Kalimantan sejak Juli berasal dari kebakaran hutan dan lahan gambut. Menurut laporan ABC Asia, emisi kebakaran di Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia selama sebulan terakhir.
Data Fire Emissions Watch, portal yang dikembangkan melalui layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa, juga menunjukkan emisi Indonesia mencapai hampir setengah dari total emisi global selama tujuh hari terakhir dalam periode yang dilaporkan.
Dampak polusi terlihat pada kualitas udara di sejumlah wilayah. Laporan tersebut menyebut indeks polusi udara di beberapa daerah Kalimantan dan Sumatra mencapai lebih dari 1.000, sementara angka 300 atau lebih telah dikategorikan berbahaya dalam indeks yang dirujuk.
Asap kebakaran mengandung partikel PM10 dan PM2.5. PM10 merupakan partikel berdiameter 10 mikrometer atau kurang, sedangkan PM2.5 berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang. Ukurannya yang sangat kecil membuat PM2.5 dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan berisiko memasuki aliran darah.
Kepala Unit Penelitian Iklim dan Kualitas Udara Universitas Monash, Profesor Yuming Guo, dalam ABC Asia menjelaskan bahwa partikel PM2.5 yang memasuki aliran darah dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh.
“Begitu PM2.5 masuk ke aliran darah, ia akan menyebar ke mana-mana, dari otak hingga kaki Anda. Ke mana-mana,” kata Guo.
Paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan, memburuknya asma, penyakit kardiovaskular, kanker paru-paru, serta masalah kesehatan pada organ dan sistem tubuh lainnya. Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih adalah anak-anak, lansia, serta orang yang telah memiliki gangguan pernapasan.
Ibu hamil juga termasuk kelompok rentan terhadap dampak polusi. Menurut Guo, paparan polusi dapat meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, hingga bayi lahir mati.
Baca Juga :
Karhutla Indonesia Picu Kabut Asap Lintas Negara, Malaysia hingga Filipina Ikut Terdampak
Kabut Asap Meluas ke Negara Tetangga, Penanganan Karhutla Dipertanyakan
Tak hanya mengancam kesehatan, kabut asap akibat kebakaran lahan di Indonesia kini memicu ketegangan politik di Asia Tenggara. Sejumlah negara tetangga mulai mempertanyakan lambatnya penanganan dan keengganan pemerintah Indonesia dalam menerima bantuan internasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kebakaran vegetasi atau kerusakan hutan. Ketika asap menyebar ke kawasan permukiman dan melintasi batas negara, dampaknya dapat meluas menjadi masalah kesehatan masyarakat sekaligus hubungan antarnegara.
Lonjakan kasus gangguan pernapasan yang dilaporkan hingga pertengahan Oktober juga menjadi pengingat bahwa dampak karhutla perlu dilihat dari sisi kesehatan, bukan semata-mata luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas.
Upaya pengendalian kebakaran dan perlindungan masyarakat menjadi penting untuk mengurangi paparan asap, terutama bagi kelompok yang paling rentan. (Wisa Irena Br Sitepu)