Kelompok separatis Yaman yang menguasai Aden. Foto: AFP.
Kelompok separatis Yaman yang menguasai Aden. Foto: AFP.

Pasukan Bersekutu Saling Serang, 40 Tewas di Yaman

Internasional konflik yaman
Arpan Rahman • 12 Agustus 2019 14:07
Sana'a: Bentrokan antara sejumlah pasukan Yaman yang bertempur membela pihak yang sama dalam perang saudara, telah menewaskan hingga 40 orang. Bentrokan mengancam semakin mempersulit upaya mengakhiri konflik yang memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
 
Baca juga: Separatis Yaman Ambil Alih Kendali Kota Aden.
 
Pada Sabtu, pasukan Dewan Transisi Selatan (STC), yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) merebut istana kepresidenan di kota pelabuhan Aden dari pasukan yang setia kepada Pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedua kelompok pejuang itu menjadi bagian dari koalisi pimpinan Arab Saudi untuk memerangi pemberontak yang bersekutu dengan Iran dalam konflik empat tahun Yaman. “Tetapi bentrokan di Aden terancam mengarahkan Yaman selatan ke perang saudara dalam perang saudara,” kata Crisis Group, sebuah lembaga penelitian.
 
Arab Saudi memimpin intervensi militer di Yaman pada Maret 2015 setelah pemberontak Houthi menguasai Sana'a, Ibu Kota Yaman. Konflik berubah menjadi perang proksi ketika Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mitra koalisi utamanya, menuduh Iran memasok senjata ke Houthi, yang menguasai kawasan utara yang padat.
 
Koalisi Arab Saudi mendukung banyak milisi dan sejumlah faksi dalam pertempuran melawan Houthi ketika konflik menewaskan lebih dari 10.000 korban dan mendorong sekitar 10 juta jiwa ke ambang kelaparan. PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Minggu bahwa sebanyak 40 orang tewas dalam pertempuran di Aden dan 260 lainnya terluka.
 
"Kami juga sangat khawatir dengan laporan bahwa warga sipil yang terjebak di rumah mereka kehabisan makanan dan air," kata Lise Grande, koordinator kemanusiaan PBB di Yaman, dirilis dari Financial Times, Senin 12 Agustus 2019.
 
Para separatis dukungan UEA juga telah mengambil kendali atas pelbagai gedung pemerintah dan pangkalan militer lainnya, secara efektif menempatkan mereka mengontrol Aden, yang telah menjadi basis sementara pemerintahan Presiden Abd-Rabbo Mansour Hadi.
 
Para separatis, dipimpin Dewan Transisi Selatan, menginginkan Yaman selatan yang independen dan telah menuntut terlibat dalam pembicaraan perdamaian yang didukung PBB buat mengakhiri konflik. Selatan meproklamirkan kemerdekaan sampai bersatu dengan utara pada 1990.
 
Arab Saudi meminta pasukan dewan transisi untuk menarik diri dari posisi yang mereka rebut di Aden dan mendesak faksi-faksi yang berseteru mengadakan pembicaraan di kerajaan tersebut. Tetapi muncul laporan bahwa koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan atas separatis pada Minggu.
 
Peter Salisbury, seorang analis di Crisis Group, berkata pertempuran itu hasil dari pasukan Yaman "meningkatkan dukungan eksternal untuk mencapai tujuan internal". Namun dia menambahkan bahwa dari perspektif Arab Saudi "sulit untuk melihat bagaimana rasanya bukan seperti penghinaan dan itu merusak koalisi".
 
"Saudi dan Emirat telah mampu menjalin garis ini sejak awal konflik di mana tidak ada yang sangat senang dengan yang lain tergantung atas kekuatan militer di medan perang. Selama tujuan utama koalisi untuk melawan Houthi, mereka dapat mengatasi keretakan itu," katanya.
 
Dinamika koalisi sudah bergeser. UEA menurunkan pasukannya di Yaman ketika gencatan senjata yang didukung PBB berlaku di pelabuhan penting Hodeida di Laut Merah. UEA mengutuk pertempuran di Aden dan menyerukan de-eskalasi.
 
Pertempuran di Aden meletus setelah serangan rudal Houthi menewaskan puluhan tentara separatis, termasuk seorang komandan senior.
 
Dewan Transisi Selatan meyakini Islah, sebuah gerakan Islamis yang bersekutu dengan pemerintahan Hadi, terlibat dalam serangan. Saleh Ali Alnoud, juru bicara STC yang berbasis di London, mengatakan seruan Saudi agar mundur dari istana presiden adalah "tidak realistis".
 
"Masalah dengan istana kepresidenan adalah STC dan orang selatan melihat ini sebagai basis untuk destabilisasi selatan," pungkas Salisbury.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif