Petugas berada di pusat detensi di Tajoura, Libya, yang hancur terkena serangan udara pada Selasa 2 Juli 2019. (Foto: AFP/Mahmud Turkia)
Petugas berada di pusat detensi di Tajoura, Libya, yang hancur terkena serangan udara pada Selasa 2 Juli 2019. (Foto: AFP/Mahmud Turkia)

WHO: Hampir 1.000 Orang Tewas dalam Konflik Libya

Internasional konflik libya
Arpan Rahman • 07 Juli 2019 18:03
Tripoli: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 1.000 orang tewas setelah Jenderal Khalifa Haftar melancarkan serangan untuk merebut Tripoli, ibu kota dari Libya, sejak awal April hingga saat ini.
 
Data WHO yang dirilis pada Jumat 5 Juli meliputi sedikitnya 60 imigran yang tewas dalam serangan udara di sebuah pusat detensi di Tajoura.
 
Pasukan Nasional Libya (LNA) di bawah Haftar menguasai Libya bagian timur dan juga selatan. Sejak awal April, LNA berusaha merebut Tripoli dari Pemerintah Perjanjian Nasional (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


LNA mencoba merebut ibu kota lewat rangkaian serangan udara dan pertempuran darat. WHO mencatat selain menewaskan hampir 1.000 orang, pertempuran antara LNA dan GNA juga melukai 5.000 lainnya.
 
Dikutip dari Al Jazeera, Sabtu 6 Juli 2019, pertempuran memperebutkan Tripoli juga telah memaksa lebih dari 100 ribu orang melarikan diri dari rumah mereka di Libya. Negara tersebut sudah dilanda gelombang kekerasan sejak tergulingnya diktator Muammar Gaddafi pada 2011.
 
Mengenai serangan di pusat detensi, GNA menuduh pasukan Haftar sengaja melancarkan serangan tersebut. LNA membantah tuduhan GNA, dan mengaku hanya menyerang sekelompok milisi yang ada di dekat pusat detensi.
 
Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mengatakan enam anak-anak termasuk dari 60 korban tewas dalam serangan di pusat detensi.
 
Sejumlah agensi PBB dan grup hak asasi manusia telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran mengenai nasib ribuan imigran dan pengungsi di beberapa pusat detensi di dekat zona perang Libya.
 
Menurut data PBB, sekitar 5.700 imigran dan pengungsi berada di beberapa pusat detensi di Libya, 3.300 di antaranya rentan terkena imbas pertempuran di dalam dan sekitar Tripoli.
 
Di hari yang sama dengan laporan WHO, Dewan Keamanan PBB telah menyerukan diterapkannya gencatan senjata antara LNA dan GNA. DK PBB secara khusus mengecam keras serangan terhadap pusat detensi, dan meminta dua kubu bertikai menurunkan ketegangan.
 
GNA mendapat dukungan dari Turki dan Qatar, sementara LNA didukung Uni Emirat Arab, Mesir dan beberapa negara lainnya.
 
Baca:Erdogan Desak Haftar Hentikan Serangan di Libya
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif