Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)

Erdogan Desak Haftar Hentikan Serangan di Libya

Internasional konflik libya turki
Willy Haryono • 06 Juli 2019 16:03
Ankara: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan agar "serangan ilegal" oleh Pasukan Nasional Libya (LNA) di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar terhadap pemerintah resmi Libya segera dihentikan.
 
Selain mengecam Haftar, Erdogan juga memperkuat dukungannya kepada otoritas resmi Libya, yakni Pemerintahan Perjanjian Nasional (GNA). Dukungan disampaikan saat Erdogan berbicara dengan Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj di Istanbul pada Jumat 5 Juli.
 
"Beliau memperbarui dukungannya untuk pemerintahan (Libya) yang diakui komunitas internasional dan juga menyerukan agar serangan ilegal pasukan Haftar segera dihentikan," sebut kantor kepresidenan Erdogan, dikutip dari laman presstv.com, Sabtu 6 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Haftar, yang berkuasa di wilayah Libya timur, melancarkan serangan besar-besaran terhadap GNA sejak 4 April untuk merebut ibu kota Tripoli. Bentrokan LNA dan GNA sejauh ini, terutama di pinggiran selatan Tripoli, telah menewaskan hampir 1.000 orang.
 
Bulan lalu, Haftar memerintahkan pasukannya untuk menangkap semua warga Turki. Ia juga menutup semua restoran dan toko terasosiasi Turki karena kesal usai kota Gharyan yang sempat direbutnya diambil kembali pasukan loyalis GNA.
 
Pada 1 Juli, satu hari usai pasukan Haftar menghancurkan sebuah pesawat tanpa awak alias drone milik Turki, LNA membebaskan enam warga Turki. Keenamnya dibebaskan setelah Turki bertekad akan menjadikan LNA "sasaran resmi" jika enam orang itu tidak segera dibebaskan.
 
"Harga yang harus dibayar akan sangat tinggi. Mereka (LNA) akan mendapat konsekuensi tegas dan juga efisien," tutur Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pada 30 Juni.
 
Sementara itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyerukan adanya gencatan senjata di Libya. DK PBB juga mengecam sebuah serangan yang mengenai kamp detensi imigran Tanjoura di wilayah timur Tripoli.
 
Baca:Libya Sebut Negara Asing Dalangi Serangan Penampungan Imigran
 
"Menekankan pentingnya semua pihak untuk menurunkan ketegangan dan menerapkan gencatan senjata," sebut DK PBB terkait Libya.
 
Libya dilanda gelombang kekerasan sejak 2011, saat mantan diktator Muammar Gaddafi digulingkan dari kekuasaan. Kekerasan juga semakin meningkat usai pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengintervensi konflik di Libya.
 
Tergulingnya Gaddafi menimbulkan vakum kekuasaan di Libya, yang berujung kekacauan dan munculnya sejumlah grup militan, termasuk Islamic State (ISIS).

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif