Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungan ke Chad, 23 Desember 2018. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)
Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungan ke Chad, 23 Desember 2018. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)

Macron Kritik Penarikan Pasukan AS dari Suriah

Internasional krisis suriah prancis konflik suriah donald trump Emmanuel Macron
Willy Haryono • 24 Desember 2018 17:09
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkritik keputusan Amerika Serikat yang segera menarik pasukannya dari Suriah. Kritik disampaikan Macron dalam konferensi pers bersama Presiden Idriss Deby di N'Djamena, Chad, Minggu 23 Desember 2018.
 
"Saya sangat menyayangkan keputusan yang diambil (AS) terkait Suriah," ucap Macron, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu Agency.
 
"Seorang sekutu harus dapat diandalkan dan berkoordinasi dengan sekutu lainnya. Menjad sekutu dapat diartikan berjuang bersama-sama," lanjut dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Macron mengapresiasi langkah Menteri Pertahanan AS James Mattis yang memilih mengundurkan diri atas keputusan Trump. Awal tahun depan, Trump menegaskan Mattis akan digantikan oleh Wakil Menhan, Patrick Shanahan.
 
Rabu kemarin, Trump mengumumkan hendak menarik sekitar 2.000 personel militer AS dari Suriah. Keputusan diambil usai dirinya berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 14 Oktober.
 
Dalam percakapan terbaru via telepon, Trump dan Erdogan juga sepakat tidak akan membiarkan Suriah mengalami kekosongan kekuasaan saat pasukan AS ditarik. Trump menegaskan Erdogan akan menjadi tokoh yang menghabisi sisa-sisa militan Islamic State (ISIS) di Suriah setelah ditinggal pasukan AS.
 
AS memulai operasi militer di Suriah pada 2014, dengan tujuan utama membantu pasukan lokal dalam memerangi ISIS. Sejumlah laporan menyebut pasukan AS akan benar-benar ditarik dalam kurun waktu 60 hingga 100 hari ke depan.
 
Seorang juru bicara militer Washington mengatakan kepada media AFP bahwa surat perintah penarikan pasukan sudah ditandatangani Kemenhan AS atau Pentagon.
 
Rencana penarikan muncul menjelang kemungkinan adanya operasi militer Turki di Suriah terhadap grup YPG dan PKK. Sejak 2016, Turki telah melancarkan dua operasi serupa di Suriah utara.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif