Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Donald Trump di Buenos Aires, Argentina, 1 Desember 2018. (Foto: AFP/Turkish Presidential Office/MURAT CETINMUHURDAR)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Donald Trump di Buenos Aires, Argentina, 1 Desember 2018. (Foto: AFP/Turkish Presidential Office/MURAT CETINMUHURDAR)

Trump dan Erdogan Cegah Vakum Kekuasaan di Suriah

Internasional krisis suriah konflik suriah donald trump
Willy Haryono • 24 Desember 2018 09:37
Ankara: Amerika Serikat dan Turki sepakat mencegah terjadinya vakum kekuasaan di Suriah setelah nantinya Washington menarik mundur pasukan darat dari negara tersebut. Kesepakatan tercapai via sambungan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Minggu 23 Desember 2018.
 
Turki adalah negara sekutu yang memuji keputusan Trump menarik 2.000 personel militer AS dari Suriah. Pasukan AS disiagakan di negara tersebut sebagai bagian dari koalisi melawan kelompok militan Islamic State (ISIS).
 
"Dua pemimpin memastikan koordinasi antara pejabat militer, diplomatik dan lainnya untuk mencegah vakum kekuasaan yang dapat terjadi setelah penarikan (pasukan) dan fase transisi di Suriah," ujar kantor kepresidenan Turki di Ankara, seperti disitat dari kantor berita AFP.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa jam sebelum pengumuman dari Ankara, Trump menuliskan di Twitter bahwa dirinya telah berbicara dengan Erdogan mengenai "ISIS, keterlibatan dua negara di Suriah dan penarikan pasukan AS."
 
Erdogan juga menulis di Twitter tak lama setelahnya. "Kami sepakat meningkatkna koordinasi dalam berbagai isu, termasuk soal perdagangan dan perkembangan situasi di Suriah," ungkap dia.
 
Mundurnya AS dapat memungkinkan pasukan Turki bergerak melawan pejuang Kurdi di Suriah, yang selama ini memainkan peranan kunci dalam perang melawan ISIS. Namun bagi Ankara, pejuang Kurdi adalah ancaman.
 
Banyak politikus AS dan mitra internasional yang khawatir bahwa penarikan pasukan AS terlalu dini dan dapat membuat Suriah semakin tidak stabil.
 
Beberapa politikus dari Partai Demokrat dan Republik di AS bersama-sama membantah klaim Trump bahwa ISIS telah kalah. Kalangan militer AS juga mengekspresikan kekhawatiran karena tiba-tiba harus meninggalkan mitra Kurdi mereka di Suriah.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi