Tempat penampungan imigran di Libya yang diserang pihak milisi. (Foto: AFP).
Tempat penampungan imigran di Libya yang diserang pihak milisi. (Foto: AFP).

PBB: Serang Imigran, Milisi Libya Lakukan Kejahatan Perang

Internasional konflik libya imigran
Fajar Nugraha • 03 Juli 2019 19:13
New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersuara keras terhadap serangan udara Libya yang menghantam pusat penampungan imigran. Kejadian itu menewaskan hampir 40 imigran.
 
Baca juga: Serangan Udara Sasar Kamp Imigran Libya, 40 Tewas.
 
PBB mengatakan serangan udara terhadap pusat migran itu kemungkinan merupakan sebuah 'kejahatan perang'.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Serangan ini jelas bisa merupakan kejahatan perang, karena menewaskan orang-orang tak berdosa. Lebih mengejutkan lagi, kondisi yang memaksa mereka untuk berada di tempat perlindungan itu," kata utusan khusus PBB untuk Libya Ghassan Salame dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Rabu, 3 Juli 2019.
 
Kecaman juga datang dari Turki mengenai penyerangan ini. Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa serangan itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan menyerukan penyelidikan internasional.
 
"Serangan yang merenggut nyawa puluhan orang tak bersalah, adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Kemenlu Turki.
 
"Investigasi internasional harus segera diluncurkan untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab," tambahnya.
 
Serangan di fasilitas penahanan yang menampung 120 migran di pinggiran Tripoli diduga dilakukan oleh panglima perang milisi Libya Khalifa Haftar. Dia ketahui menguasai sebagian besar Libya timur dan selatan.
 
Haftar telah memimpin serangan ofensif selama tiga bulan untuk merebut ibu kota Libya. Turki, yang mendukung pemerintahan persatuan nasional (GNA) yang diakui secara internasional di Tripoli, telah menjadi target bagi Haftar.
 
Pada pekan lalu Haftar memerintahkan pasukannya untuk menyerang kepentingan Turki di negara itu setelah ia kehilangan kota utama. Kemudian, enam pelaut Turki ditahan pada pekan ini tetapi dibebaskan setelah Ankara bersumpah untuk membalas.
 
Libya telah berada dalam kekacauan sejak pemberontakan yang didukung-NATO berakhir dengan kematian diktator Moamar Kadhafi pada 2011. Kondisi itu akhirnya memicu perebutan kekuasaan antara banyak kelompok milisi.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif