Namun kapal yang bisa melewati adalah kapal-kapal milik negara-negara yang mematuhi protokol lalu lintas di kawasan tersebut, khususnya dalam situasi perang.
"Tentu negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh, dan mereka yang mematuhi protokol lalu lintas dari Selat Hormuz, khususnya pada saat perang, mereka bisa melewati Selat Hormuz," kata Dubes Boroujerdi dikutip dari Media Indonesia.
Ia menekankan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara-negara yang tidak memberikan akses wilayahnya kepada pihak musuh untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Boroujerdi bahkan mencontohkan dua kapal Indonesia yang diizinkan melintasi selat tersebut.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kawasan itu merupakan jalur strategis yang harus dijaga keamanannya oleh Iran, terlebih di tengah serangan yang terus dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negaranya.
Karena itu, kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut diminta mematuhi protokol lalu lintas yang berlaku dalam kondisi perang.
"Jika ini tidak aman bagi kami, maka tidak aman bagi semuanya. Protokol lalu lintas di Selat Hormuz pada saat perang mengizinkan (kapal-kapal untuk) lewat," katanya menegaskan.
Boroujerdi juga menyebut bahwa hingga kini musuh yang ia sebut sebagai pihak imperialis dan Zionis masih melancarkan serangan yang menargetkan rumah warga, fasilitas sipil, serta berbagai ruang publik.
Iran, kata dia, akan terus memberikan perlawanan. "Kami tidak akan kompromi dengan pihak musuh," katanya.
Menurutnya, pihak lawan harus diberi pelajaran dari perkembangan yang terjadi. "Dan kelihatannya kami masih jauh dari posisi tersebut," beber Boroujerdi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News