Presiden AS Donald Trump. Foto: Anadolu Agency.
Presiden AS Donald Trump. Foto: Anadolu Agency.

Trump Melunak dengan Program Nuklir Iran, Ada Tapinya

Adri Prima • 15 Juni 2026 23:23
Ringkasnya gini..
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menunjukkan sikap melunak terhadap program nuklir Iran di tengah proses perdamaian.
  • Trump menyatakan Iran masih dapat melakukan pengayaan uranium namun dengan catatan dalam kadar rendah dan tidak digunakan untuk kepentingan militer.
  • Pernyataan tersebut berbeda dengan tuntutan Washington sebelumnya yang menginginkan penghentian total aktivitas pengayaan uranium oleh Teheran.
Washington: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mulai menunjukkan sikap melunak terhadap program nuklir Iran di tengah proses perdamaian yang masih berlangsung antara kedua negara. 
 
Trump menyatakan Iran masih dapat melakukan pengayaan uranium namun dengan catatan dalam kadar rendah dan tidak digunakan untuk kepentingan militer.
 
Pernyataan tersebut berbeda dengan tuntutan Washington sebelumnya yang menginginkan penghentian total aktivitas pengayaan uranium oleh Teheran. Kepada New York Times, Trump menegaskan Iran hanya diperbolehkan mengolah uranium untuk kebutuhan nonmiliter.

Selama tiga bulan terakhir, perundingan antara kedua negara dipimpin oleh utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff dan Jared Kushner. Namun, Iran tetap mempertahankan posisinya bahwa hak melakukan pengayaan uranium merupakan bagian dari hak yang dijamin dalam perjanjian internasional.
 
Trump mengungkapkan kedua pihak saat ini masih membahas kemungkinan penghentian sementara aktivitas pengayaan uranium oleh Iran. Jika sebelumnya Amerika Serikat mengusulkan jeda selama 20 tahun, Trump kini memberi sinyal dapat menerima masa penangguhan yang lebih singkat, yakni sekitar 15 tahun. Meski demikian, Trump menegaskan dirinya tidak ingin membahas rincian negosiasi melalui media.
 
Presiden AS itu juga menyatakan Iran nantinya hanya akan diizinkan melakukan pengayaan uranium pada tingkat rendah yang menurutnya tidak dapat dimanfaatkan untuk militer. “Mereka tidak boleh melampaui batas tertentu,” kata Trump.
 
Trump tidak menjelaskan batas angka yang dimaksud. Sebagai perbandingan, kesepakatan nuklir pada era Presiden Barack Obama membatasi pengayaan uranium Iran hingga 3,67 persen, tingkat yang cukup untuk kebutuhan pembangkit listrik tetapi tidak memadai untuk pembuatan senjata nuklir.
 
Menurut Trump, kesepakatan baru nantinya akan memastikan Iran hanya melakukan pengayaan uranium untuk tujuan damai dan nonmiliter secara permanen.
 
Di sisi lain, kantor berita Tasnim melaporkan isu nuklir belum masuk dalam rancangan nota kesepahaman (MoU) yang saat ini tengah difinalisasi. Dokumen tersebut lebih berfokus pada penghentian konflik bersenjata serta membuka jalan menuju perundingan lanjutan.
 
Perkembangan diplomasi juga terus berlanjut. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengonfirmasi nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar akan mengakhiri operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon.
 
Iran juga menegaskan bahwa pembahasan menuju kesepakatan final belum akan dimulai sebelum seluruh komitmen yang tercantum dalam MoU dilaksanakan oleh pihak lawan.
 
Sikap tersebut mencerminkan kehati-hatian Teheran terhadap Washington. Pengalaman keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir sebelumnya membuat Iran menuntut jaminan yang lebih konkret sebelum melangkah ke tahap negosiasi berikutnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan