Laporan Fox News menyebutkan langkah tersebut dipertimbangkan karena Trump menilai Iran sengaja memperlambat proses negosiasi yang tengah berlangsung, sehingga Iran harus ‘membayar harga’ atas penundaan yang terjadi.
Komando Pusat Amerika Serikat sebelumnya mengonfirmasi jet tempur AS telah melancarkan serangan terhadap fasilitas pertahanan udara dan radar Iran di sekitar Selat Hormuz pada Selasa malam (9/6). Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS.
Di sisi lain, Iran dilaporkan langsung melakukan serangan balasan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menargetkan 21 fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di sejumlah pangkalan udara dan pangkalan angkatan laut di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga :
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz Dilakukan Bersama Oman Sesuai Hukum Internasional
"Militer Iran benar-benar porak-poranda. Angkatan laut dan udara mereka nyaris tidak ada lagi," klaim Trump.
Situasi tersebut memperlihatkan memburuknya hubungan kedua negara setelah sempat menyepakati gencatan senjata pada 7 April lalu.
Upaya diplomasi yang dimediasi Pakistan di Islamabad juga belum menghasilkan kemajuan berarti. Meski negosiasi masih berjalan untuk menyusun nota kesepahaman, bentrokan dan aksi saling serang di lapangan terus berlanjut.
Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran komunitas internasional terkait kemungkinan meluasnya konflik apabila ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran benar-benar direalisasikan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda