Sekelompok warga Palestina hendak menaiki bus di perbatasan Rafah untuk menuju Bandara Kairo, Mesir, 3 Maret 2019. (Foto: AFP/SAID KHATIB)
Sekelompok warga Palestina hendak menaiki bus di perbatasan Rafah untuk menuju Bandara Kairo, Mesir, 3 Maret 2019. (Foto: AFP/SAID KHATIB)

Ratusan Warga Palestina di Gaza Diizinkan Pergi Umrah

Internasional jalur gaza mesir palestina israel
Willy Haryono • 04 Maret 2019 06:28
Gaza: Sekitar 800 warga Palestina di Jalur Gaza memasuki Mesir dalam fase pertama menunaikan ibadah umrah ke Makkah, Minggu 3 Maret 2019. Ini merupakan kali pertamanya pemerintah Mesir memberikan visa untuk warga Palestina di Gaza sejak 2014.
 
Para jamaah umrah berangkat dari Gaza usai salat subuh. Mereka menaiki iring-iringan bus dari perbatasan Mesir ke bandara di Kairo. Dari sana, mereka akan terbang ke Makkah, Arab Saudi.
 
Menurut keterangan seorang pejabat Palestina di perlintasan Rafah, seperti dilansir dari laman AFP, 15 dari 800 warga yang hendak berangkat umrah tidak diizinkan melintas. Dia tidak memaparkan alasannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara untuk ibadah Haji, sekitar 2.500 warga Gaza diizinkan berangkat ke Makkah via Mesir pada setiap tahunnya. Namun sejak digulingkannya presiden Mohamad Morsi pada 2013, Mesir cenderung sulit mengeluarkan visa untuk warga Gaza yang ingin melewati perlintasan Rafah.
 
Gaza, wilayah yang dikuasai kelompok Hamas, diblokade Israel selama lebih dari satu dekade. Militan Gaza dan Israel telah tiga kali berperang sejak 2008.
 
Perlintasan Rafah adalah satu-satunya rute keluar dari Gaza yang tidak dikuasai Israel. Perlintasan tersebut ditutup dalam beberapa tahun terakhir, dan baru dibuka kembali sekitar 10 bulan lalu.
 
Menurut data organisasi Gisha per Desember 2018, sekitar 300 orang menggunakan perlintasan Rafah dari kedua arah pada setiap harinya.
 
Sebelumnya pada awal Januari, Otoritas Palestina (PA) menarik jajaran stafnya dari perlintasan Rafah. PA menyebut penarikan dilakukan karena Hamas melecehkan dan menahan karyawan PA.
 
Sementara Hamas menilai penarikan staf sebagai bentuk "tambahan sanksi" terhadap warga Gaza oleh PA. PA menguasai perlintasan Rafah pada 2017 sebagai bagian dari perjanjian rekonsilasi dengan Hamas.
 
Perjanjian itu, yang dimediasi Mesir, bertujuan mengakhiri perpecahan antara Hamas dan grup rivalnya, Fatah yang mendominasi PA. Namun perselisihan mengenai pembagian kekuasaan telah menghambat implementasi perjanjian.
 
Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat dipimpin otoritas berbeda sejak pertempuran berdarah antara Hamas dengan Fatah meletus pada 2007.
 
Hamas memenangkan pemilihan umum parlemen di Gaza satu tahun sebelumnya, dan kemudian mengusir Fatah dari wilayah tersebut untuk memperkuat diri.
 
Baca:Konvoi Bantuan Kemanusiaan Tiba di Gaza via Mesir
 

(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif