medcom.id, Diyarbakir: Sekitar 30 orang terluka ketika sebuah ledakan menghantam sisi luar gedung polisi, Jumat 4 November pagi. Satu orang dilaporkan tewas dalam kejadian ini.
Insiden itu berlangsung di Diyarbakir, Turki yang dikenal sebagai pusat minoritas Kurdi di negara itu. Ledakan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah polisi menahan duo pemimpin partai pro-Kurdi dan beberapa anggota parlemen utama lainnya di Turki.
Penangkapan dalam eskalasi besar-besaran menjadi sebuah tindakan keras pemerintah yang meluas terhadap para pemimpin terkemuka Kurdi. (Baca: Turki Ringkus Pemimpin Partai Pro-Kurdi).
Penangkapan dalam eskalasi besar-besaran menjadi sebuah tindakan keras pemerintah yang meluas terhadap para pemimpin terkemuka Kurdi. (Baca: Turki Ringkus Pemimpin Partai Pro-Kurdi).
Seorang wartawan AFP mengatakan, beberapa ambulans dikirim ke lokasi ledakan, yang penyebabnya tidak jelas. Ledakan terdengar beberapa kilometer dan segumpal awan tebal berasap putih terlihat membubung dari lokasi ledakan.
Suara tembakan sempat terdengar setelah ledakan awal, yang menyebabkan sekitar 20 orang terluka, dua korban menderita cedera serius. Para pejabat keamanan memaparkan peristiwa itu kepada AFP, yang diminta untuk tidak menyebut nama mereka.
Pada Jumat pagi, polisi menahan Selahattin Demirtas, pemimpin Partai Demokrat Rakyat (HDP) di rumahnya di Diyarbakir. Sementara rekannya sesama ketua HDP, Figen Yuksekdag, diciduk di Ankara sebagai bagian dari penyelidikan teror, menurut kantor berita pemerintah Anadolu.
Penahanan mereka muncul sebagai bagian dari operasi besar-besaran terhadap HDP, yang merupakan partai terbesar ketiga di parlemen Turki dengan 59 kursi dan perwakilan politik utama minoritas Kurdi.
"Pasangan pemimpin itu dituduh menyebarkan propaganda untuk Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang terlarang," sebut NTV, seperti dikutip AFP, Jumat (4/11/2016).
Sedangkan Anadolu mengatakan, Demirtas dituduh memprovokasi kekerasan dalam protes mematikan bulan Oktober 2014.
Penggerebekan tersebut dilakukan selagi Turki masih berada di bawah keadaan darurat yang diberlakukan akibat kudeta gagal 15 Juli, yang menurut para kritikus telah jauh melampaui target dari komplotan kudeta yang sebenarnya.
Tiga belas staf di surat kabar oposisi, Cumhuriyet, termasuk pemimpin redaksi, ditahan pada Senin 31 Oktober, melanjutkan tingginya ketegangan di masyarakat Turki.
Ketegangan telah meningkat di kawasan tenggara Turki yang didominasi Kurdi sejak gencatan senjata, yang dinyatakan oleh PKK, runtuh pada 2015.
Sejak itu bertambah pula pemberontakan terhadap pasukan keamanan Turki, melalui serangan reguler yang telah merenggut ratusan jiwa di kalangan militer dan polisi.
HDP berusaha mempromosikan hak-hak minoritas Kurdi di Turki dan membela hak-hak warga kaum wanita, gay, dan buruh asal Kurdi.
Tetapi pihak berwenang menuduh partai itu menjadi sebuah kubu untuk PKK dan gagal menjauhkan diri dari teror, namun klaim itu selalu tegas dibantah.
Erdogan telah meluncurkan serangan pribadi secara berulang-ulang kepada Demirtas. Sosok Demirtas sendiri telah dilihat kalangan analis sebagai satu-satunya politisi di Turki yang bisa menyaingi karisma Erdogan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News