Pemimpin partai HDP Selahattin Demirtas (Foto: Reuters).
Pemimpin partai HDP Selahattin Demirtas (Foto: Reuters).

Turki Ringkus Pemimpin Partai Pro-Kurdi

Arpan Rahman • 04 November 2016 14:37
medcom.id, Ankara: Duet pemimpin partai pro-Kurdi, Demokrat Rakyat Turki (HDP), ditawan bersama setidaknya 11 anggota parlemen. Mereka ditahan karena menolak untuk memberikan kesaksian atas kejahatan terkait dengan propaganda teroris.
 
Polisi Turki menggerebek rumah di Ankara milik pemimpin partai HDP Selahattin Demirtas dan rumah Figen Yuksekdag di Diyarbakir, kota terbesar mayoritas Kurdi di tenggara Turki, Jumat 4 November pagi. Penggerebakan itu diungkapkan para pengacara partai kepada Reuters.
 
Disitat Guardian, Jumat (4/11/2016), dari laporan AFP dan Reuters, setidaknya 11 anggota parlemen asal HDP lainnya juga ditahan, seperti dikatakan para pengacara. Penahanan itu menjadi sebuah eskalasi utama dari tindakan keras pemerintah terhadap lawan-lawannya yang dipicu kudeta gagal pada 15 Juli. Razia juga berlangsung di kota-kota di sebelah tenggara, Van dan Bingol.
 
Kesulitan meluas untuk mengakses situs media sosial seperti Twitter dan Facebook serta aplikasi pesan WhatsApp juga dilaporkan di Turki setelah penahanan dimulai pada tengah malam tadi.
 
Demirtas--seorang pemimpin karismatik, dijuluki "Obama Kurdi" oleh beberapa pengagumnya-- dan Yuksekdag telah menjadi target sejumlah penyelidikan terpisah selama beberapa bulan terakhir, tapi untuk pertama kalinya mereka berdua ditahan.
 
Tokoh lain yang ditahan, termasuk anggota parlemen terkemuka, Sirri Surreya Onder, yang pernah menjadi penghubung dengan pemimpin PKK yang dipenjara Abdullah Ocalan. Ketua fraksi HDP di parlemen Turki, Idris Baluken, juga dibui.
 
"HDP menyerukan masyarakat internasional untuk bereaksi terhadap kudeta rezim Erdogan," tulis partai itu di Twitter, mengacu kepada presiden Recep Tayyip Erdogan.
 
Polisi juga menggerebek dan menggeledah kantor pusat partai tersebut di Ankara Tengah. Tayangan televisi menunjukkan, para pejabat partai bertengkar dengan polisi saat penggerebekan. Seorang saksi mata mengatakan kepada Reuters, banyak mobil polisi dan kendaraan bersenjata telah memblokir pintu masuk ke jalan di mana markas HDP berada.
 
"Sekelompok pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan mencoba untuk mencapai kantor partai tersebut, tapi dihentikan polisi sebelum mereka bisa memasuki jalan itu," kata seorang saksi mata kepada Reuters.
 
Kabar ini sangat buruk dari Turki. Kembali lagi. Sekarang para anggota parlemen dari partai HDP sedang ditahan, tulis pelapor Parlemen Eropa di Turki, Kati Piri, di Twitter.
 
HDP adalah partai terbesar ketiga, dalam total 550 kursi di parlemen Turki, dengan 59 kursi. Anggota parlemen di Turki biasanya menikmati kekebalan hukuman dari proses penuntutan, tapi kekebalan di partai pro-Kurdi itu sudah tidak mempan lagi awal tahun ini.
 
Turki menuduh HDP punya jaringan ke kelompok militan Kurdi PKK, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Turki.
 
Penggerebekan muncul tatkala Turki masih berada di bawah keadaan darurat yang diberlakukan akibat kudeta, yang menurut para kritikus telah jauh melampaui pemberlakuannya untuk menargetkan komplotan kudeta yang sebenarnya.
 
Tiga belas staf di surat kabar oposisi, Cumhuriyet, termasuk pemimpin redaksi, ditahan pada Senin 31 Oktober, melanjutkan tingginya ketegangan di masyarakat Turki.
 
Ketegangan telah meningkat di kawasan tenggara Turki yang didominasi Kurdi sejak gencatan senjata yang dinyatakan oleh PKK runtuh pada 2015. HDP berusaha mempromosikan hak-hak minoritas Kurdi di Turki dan membela hak-hak warga kaum wanita, gay, dan buruh asal Kurdi.
 
Tetapi pihak berwenang menuduh partai itu menjadi sebuah kubu untuk PKK dan gagal menjauhkan diri dari teror, namun klaim itu selalu tegas dibantah.
 
Erdogan telah meluncurkan serangan pribadi secara berulang-ulang kepada Demirtas. Sosok Demirtas sendiri telah dilihat kalangan analis sebagai satu-satunya politisi di Turki yang bisa menyaingi karisma Erdogan.
 
Demirtas telah membuatnya menjadi elan perjuangan pribadi demi menentang rencana Erdogan untuk menerapkan sistem presidensial di Turki. Pemimpin partai HDP tersebut mengatakan, sistem itu akan menyebabkan kediktatoran.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan