Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara dalam pertemuan bertemakan iklim di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 30 Juni 2019. (Foto: AFP/KARIM SAHIB)
Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara dalam pertemuan bertemakan iklim di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 30 Juni 2019. (Foto: AFP/KARIM SAHIB)

Sekjen PBB Peringatkan Ancaman 'Darurat Iklim'

Internasional pbb perubahan iklim
Arpan Rahman • 01 Juli 2019 13:28
Abu Dhabi: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan semua orang bahwa dunia sedang menghadapi ancaman berbahaya dalam bentuk perubahan iklim.
 
Dalam konferensi iklim di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Guterres menyerukan kepada seluruh hadirin untuk mengambil tindakan nyata dalam menanggulangi perubahan iklim dan penyebab-penyebabnya.
 
"Gangguan iklim sedang terjadi saat ini, dan ini terjadi kepada kita semua," kata Guterres, disiarkan dari media UPI, Minggu 30 Juni 2019. "Ini terjadi lebih cepat dari yang telah diprediksi ilmuwan-ilmuwan terbaik dunia," tegasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Guterres mengutip sebuah laporan yang dirilis pekan lalu. Dalam laporan itu disebutkan bahwa tingkat rata-rata pencairan lapisan gletser di Pegunungan Himalaya telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000. Lapisan es di Kutub Utara juga mencair lebih cepat beberapa dekade dari estimasi skenario terburuk.
 
"Sudah jelas bagi saya bahwa kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi," ujar Guterres. "Namun sayangnya, hal ini belum mendapat perhatian yang cukup dari para pembuat keputusan di seantero dunia," lanjutnya.
 
Baca:PBB: Permukaan Laut Capai Titik Tertinggi Rekornya Tahun Lalu
 
Menurutnya, banyak negara belum dapat mencapai target yang ditetapkan di bawah Perjanjian Iklim Paris. Oleh karena itu, Guterres memutuskan untuk menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Aksi Iklim pada September mendatang.
 
"KTT Aksi Iklim adalah kesempatan bagi para pelaku bisnis politik dan masyarakat sipil untuk memberikan contoh kepada dunia," sebut Guterres. "KTT ini harus terbuka, inklusif dan jujur, dan upaya yang kita lakukan bersama ke depannya harus efektif," sambungnya.
 
Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang menentang Perjanjian Iklim Paris di antara anggota G20. Dalam KTT G20 di Osaka pada akhir pekan kemarin, kompromi dengan skema "setuju untuk tidak setuju" digunakan demi mendorong deklarasi untuk melawan perubahan iklim.
 
Kompromi dengan skema serupa digunakan dalam KTT G20 tahun lalu, setelah Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif