Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi. (tasnim news agency)
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi. (tasnim news agency)

Tolak Negosiasi dengan AS, Iran Siap Ladeni Perang 6 Bulan

Adri Prima • 01 April 2026 19:09
Ringkasnya gini..
  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, menegaskan untuk menolak bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
  • Aragchi mengakui adanya pertukaran pesan antara kedua pihak, baik secara langsung maupun melalui perantara.
  • Terkait laporan mengenai proposal dari AS maupun syarat balasan dari Iran, Aragchi menyebutnya sebagai spekulasi media.
Jakarta: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, menegaskan untuk menolak bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan ia menyebut Iran siap menghadapi perang hingga 6 bulan ke depan. 
 
Dalam wawancara dengan Al Jazeera di Teheran, Aragchi menegaskan Iran tidak terikat tenggat waktu apa pun. “Kami siap (perang) untuk setidaknya enam bulan,” ujar Aragchi.
 
Terkait dengan bernegosiasi dengan Washington, Aragchi menegaskan tidak sudi duduk bersama dengan AS dan Israel. “Situasi seperti itu tidak ada antara Iran dan Amerika Serikat,” tegasnya.

Aragchi mengakui adanya pertukaran pesan antara kedua pihak, baik secara langsung maupun melalui perantara. Ia menyebut utusan AS, Steve Witkoff, masih mengirimkan pesan kepadanya. Namun, komunikasi tersebut ditegaskan bukan bentuk negosiasi.
 
“Ini bukan negosiasi, melainkan bentuk komunikasi yang dapat terjadi dalam damai maupun perang,” katanya.
Ia juga membantah adanya jalur komunikasi tidak resmi dari pihak Iran dengan Washington. Seluruh komunikasi, menurutnya, berada di bawah kendali Kementerian Luar Negeri serta pengawasan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
 
Terkait laporan mengenai proposal dari AS maupun syarat balasan dari Iran, Aragchi menyebutnya sebagai spekulasi media. “Tidak ada respons yang diberikan sejauh ini terhadap proposal AS,” ujarnya.
 

Penghentian Konflik


Aragchi menegaskan Iran tidak menerima gencatan senjata sementara. Ia menuntut penghentian total konflik di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, Irak, dan Yaman, disertai jaminan agar konflik tidak terulang serta kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran.
 
Saat ini, tingkat kepercayaan terhadap AS “nol”, mengingat pengalaman sebelumnya terkait kesepakatan yang ditinggalkan secara sepihak. “Kami tidak melihat ketulusan saat ini,” katanya.
 
Terkait Selat Hormuz, Aragchi menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, namun tidak bagi negara yang terlibat perang dengan Iran. “Dalam masa perang, kami tidak dapat mengizinkan musuh menggunakan perairan internal kami,” tegasnya. 
 
Ia turut menegaskan Iran tidak akan menerima tekanan atau ultimatum. “Rakyat Iran tidak bisa diajak bicara dengan ancaman dan ultimatum. Mereka harus dihormati, jika tidak, mereka akan merespons di lapangan,” ujarnya.
 
Aragchi menambahkan, keamanan kawasan Teluk Persia seharusnya dijaga oleh negara-negara regional tanpa ketergantungan pada kekuatan militer asing. Menurutnya, stabilitas jangka panjang hanya dapat dicapai melalui kerja sama regional dan saling menghormati.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan