Aksi ini menjadi simbol penolakan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter.
Aksi No Kings merupakan mobilisasi besar ketiga dari gerakan akar rumput yang berkembang sebagai respons atas meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pemerintah.
Ribuan hingga jutaan warga turun ke jalan dengan membawa pesan penolakan terhadap konsentrasi kekuasaan dan pembelaan terhadap demokrasi.
Para demonstran menyoroti sejumlah kebijakan yang dianggap menggerus nilai demokrasi, mulai dari kebijakan imigrasi, pembatasan hak aborsi, hingga keterlibatan AS dalam konflik bersenjata baru. Meski tidak berfokus pada satu isu tertentu, gerakan ini secara luas mengkritik perluasan kekuasaan eksekutif.
“Ini tentang segalanya,” ujar Caitlin Pease, peserta aksi yang впервые mengikuti demonstrasi di Upstate New York.
Protes kebijakan Trump
Aksi ini berlangsung di tengah menurunnya tingkat persetujuan publik terhadap Trump, termasuk dari sebagian pendukungnya. Sejumlah kebijakan menjadi sorotan, seperti konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel militer AS, kenaikan harga bahan bakar, hingga lonjakan harga kebutuhan pokok akibat kebijakan tarif.
Di sisi lain, politisi Partai Republik menilai gerakan ini tidak efektif, sementara Trump menyebutnya sebagai “lelucon”. Namun, koalisi kelompok progresif penggagas aksi mengklaim jumlah peserta kali ini melampaui rekor sebelumnya, setelah sekitar 7 juta orang turut serta dalam demonstrasi Oktober lalu.
Meluas ke banyak negara
Gerakan No Kings menjangkau hampir seluruh wilayah AS, dari kota besar hingga daerah konservatif, termasuk Alaska dan kawasan sekitar Mar-a-Lago. Demonstrasi terbesar dilaporkan terjadi di depan Gedung Capitol Negara Bagian Minnesota.
Gubernur Minnesota, Tim Walz, bahkan menyatakan dukungan terbuka terhadap aksi tersebut.
“Ketika demokrasi terancam, Minnesota mengatakan tidak,” tegasnya.
Gerakan ini juga meluas ke tingkat internasional dengan aksi solidaritas di sejumlah kota dunia seperti Roma, Paris, Madrid, Amsterdam, Sydney, dan Tokyo. Di Washington DC, massa berkumpul di National Mall hingga sekitar Gedung Putih dengan membawa berbagai pesan dukungan terhadap demokrasi.
Sebagian peserta mengaku sempat khawatir menunjukkan identitas karena bekerja di instansi pemerintah. Namun, ada pula yang memilih tetap bersuara.
“Dulu saya takut kehilangan pekerjaan, tapi sekarang tidak lagi,” ujar Kim, seorang pegawai federal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News