Kematian Jurnalis Arab Saudi

Direktur CIA Dengarkan Rekaman Suara Pembunuhan Khashoggi

Fajar Nugraha 25 Oktober 2018 10:59 WIB
arab saudiJamal Khashoggi
Direktur CIA Dengarkan Rekaman Suara Pembunuhan Khashoggi
Jamal Khashoggi dikenal sebagai pengkritik keluarga Kerajaan Arab Saudi. (Foto: Anadolu).
Istanbul: Direktur CIA Gina Haspel, di Turki untuk menyelidiki kematian wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi. Haspel dilaporkan telah mendengarkan rekaman suara penyiksaan dan pembunuhan Khashoggi.
 
Baca juga: Kasus Khashoggi, Turki Berbagi Bukti dengan CIA.
 
The Washington Post, Kamis, 25 Oktober 2018 mengutip seorang sumber yang dekat penyelidikan dan menyebutkan bahwa isi dari rekaman suara ini bisa memberikan banyak tekanan dari Amerika Serikat (AS)  untuk meminta pertanggungjawaban Arab Saudi atas kematian Khashoggi. Jurnalis berusia 59 tahun itu merupakan kolumnis yang berkontribusi untuk surat kabar the Washington Post.
 
Presiden AS Donald Trump, yang telah menegaskan kembali bahwa ia memandang Arab Saudi sebagai sekutu besar dan pembeli peralatan senjata AS yang paling penting. Arab Saudi sebelumnya sudah sepakat untuk membeli tank, rudal dan pesawat dari AS. Pemerintahan Presiden Donald Trump pun tampaknya semakin curiga terhadap peran Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam kematian Khashoggi.
 
Trump mengatakan kepada The Wall Street Journal, "Pangeran yang menjalankan roda pemerintahan di sana saat ini. Jika ada yang bertanggungjawab, itu pasti dia. "
 
Penilaian terbaru Trump tentang kematian Khashoggi muncul setelah dia mengatakan kepada wartawan Selasa bahwa pemerintah Arab Saudi telah melancarkan "salah satu penutupanterburuk" dalam sejarah. Terutama dengan tanggapan mereka terhadap pembunuhan Khashoggi.
 
"Mereka memiliki konsep yang sangat buruk. Itu dilakukan dengan buruk, dan menutup-nutupi adalah salah satu yang terburuk yang ditutup-tutupi dalam sejarah menutup-nutupi," kata Trump.
 
"Penutupan itu mengerikan. Eksekusi itu mengerikan. Tapi seharusnya tidak pernah ada eksekusi atau ditutup-tutupi karena seharusnya tidak pernah terjadi," jelas Trump.
 
Pada hari Rabu, Inggris bersama dengan AS dalam mencabut visa dari orang-orang yang dicurigai membunuh Khashoggi. Sementara Amerika Serikat dan beberapa pemerintahan negara Barat lainnya mempertimbangkan tindakan lebih lanjut terhadap Riyadh, termasuk kemungkinan memotong penjualan senjata.
 
Baca juga: Potongan Tubuh Khashoggi Ditemukan di Rumah Konjen Saudi.
 
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan "pencabutan visa tidak akan menjadi kata terakhir dalam hal ini dari Amerika Serikat. Kami akan terus mengeksplorasi langkah-langkah tambahan untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Kami membuat dengan sangat jelas bahwa Amerika Serikat tidak mentolerir tindakan kejam semacam ini untuk membungkam Tuan Khashoggi, seorang wartawan, melalui kekerasan."
 
Kanselir Jerman Angela Merkel telah menghentikan penjualan senjata masa depan ke Riyadh dan sedang mempertimbangkan apakah akan menghentikan pengiriman senjata yang telah disetujui untuk ekspor tetapi belum dikirim ke Arab Saudi. Sedangkan Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan penjualan persenjataan Saudi "sedang ditinjau," sikap yang mirip dengan yang diungkapkan oleh Australia.
 
Tetapi Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan Madrid akan memenuhi komitmennya untuk menjual Riyadh 400 bom presisi  meskipun "cemas" atas "pembunuhan mengerikan" dari Khashoggi.
 
Di Capitol Hill, Rabu, RUU diperkenalkan di Dewan Perwakilan AS yang akan menghentikan sebagian besar penjualan senjata AS ke Arab Saudi.
 
Bahasa dalam RUU menyatakan bahwa Presiden Trump dapat meminta pengecualian atas larangan penjualan senjata jika ia juga menyerahkan laporan tentang penyelidikan AS terhadap siapa pun yang terlibat dalam "pembunuhan wartawan dan penduduk tetap Amerika Serikat Jamal Khashoggi."



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id