Pihak Turki sendiri membantah keras laporan tersebut. Ankara menegaskan tudingan itu merupakan disinformasi dan bagian dari "propaganda hitam" yang bertujuan merusak citra diplomasi Turki.
Bantahan itu disampaikan melalui Pusat Pemberantasan Disinformasi (DMM) di bawah Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki, sebagai respons atas rumor yang beredar luas di media sosial dan sejumlah situs berita.
"Laporan yang mengklaim bahwa Turki memasok Iran dengan rudal anti-pesawat modern dan rudal drone, serta tuduhan bahwa jet tempur F-15 Amerika yang jatuh diduga terkena sistem pertahanan udara portabel Turki, adalah sepenuhnya salah dan tidak benar," tegas DMM dalam pernyataan resminya, Minggu, 5 April 2026.
Narasi sesat untuk memperkeruh situasi
Pemerintah Turki menilai klaim tersebut sebagai bagian dari perang psikologis yang disengaja. Narasi tersebut disebut bertujuan melemahkan peran Turki yang selama ini mengedepankan pendekatan damai dan diplomasi dalam menangani krisis kawasan.
"Operasi informasi ini bertujuan menyesatkan komunitas internasional dan merusak keberhasilan diplomatik negara kami yang telah diakui secara global," lanjut pernyataan tersebut.
Turki menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas regional tetap konsisten. Ankara juga mengimbau masyarakat internasional maupun publik domestik agar tidak terpengaruh oleh "kampanye informasi kotor" yang berpotensi memanipulasi opini publik dan memperkeruh situasi politik yang sudah rapuh.
Isu ini mencuat setelah insiden jatuhnya jet tempur F-15 milik Amerika Serikat di wilayah Iran pada Jumat (3/4). Spekulasi terkait jenis senjata yang digunakan untuk menjatuhkan pesawat tersebut terus berkembang, termasuk dugaan keterlibatan teknologi militer dari negara-negara sekitar, salah satunya Turki.
Melalui bantahan resmi ini, Turki berupaya menegaskan posisinya sebagai pihak netral sekaligus menghindari keterlibatan lebih jauh dalam konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News