Langkah ini diambil setelah perundingan damai di Pakistan dilaporkan runtuh, dengan Washington menuding Teheran tetap bersikeras mempertahankan ambisi nuklirnya.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan blokade akan berlaku terhadap seluruh kapal tanpa pengecualian, baik yang keluar maupun masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman.
Operasi militer berskala besar tersebut dijadwalkan mulai pukul 14.00 GMT atau Senin malam WIB.
"Blokade akan diterapkan secara imparsial terhadap semua kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran," demikian pernyataan resmi militer AS.
Keputusan ini diambil meski sebelumnya telah disepakati gencatan senjata sementara yang direncanakan berlangsung hingga 22 April. Ketegangan kini berfokus pada tuntutan Washington agar Iran membuka penuh akses Selat Hormuz yang masih menjadi titik krusial dalam negosiasi.
Presiden Donald Trump menegaskan operasi tersebut bertujuan memastikan jalur pelayaran internasional tetap aman, termasuk upaya pembersihan ranjau. Ia juga memperingatkan Iran agar tidak memanfaatkan kendali atas selat strategis tersebut untuk kepentingan militer.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Setiap pihak Iran yang menyerang kami atau kapal sipil akan dihancurkan,” tegas Trump.
Respons Iran
Di sisi lain, Teheran menolak keras langkah sepihak tersebut. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan dari Washington.
"Kami tidak akan menyerah pada ancaman apa pun," ujar Ghalibaf.
Sikap serupa disampaikan Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, yang menyebut ancaman blokade tersebut tidak masuk akal.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengklaim telah menguasai lalu lintas di Selat Hormuz dan siap merespons setiap ancaman terhadap kedaulatan mereka.
Hingga kini, Iran dilaporkan masih membatasi arus kapal di selat tersebut, meski tetap membuka akses terbatas bagi negara mitra seperti Tiongkok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News