Mayjen Safavi bahkan mengklaim pihaknya mengetahui lokasi pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 3 Maret.
"Kami mengetahui lokasi pertemuan Netanyahu dan basis data intelijen kami lengkap," kata Safavi dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah, seperti dikutip Intellinews, Selasa 3 Maret 2026.
Safavi, yang pernah menjabat sebagai panglima tertinggi IRGC pada 1997-2007, turut menyinggung mantan Presiden AS Donald Trump. Ia mengatakan Trump telah menjadi "pion di tangan Netanyahu" dan mengorbankan kepentingan Amerika demi Israel.
Ia juga menyebut banyak politisi AS mempertanyakan alasan uang pajak warga Amerika dan nyawa tentara harus dihabiskan untuk melayani Israel.
| Baca juga: Kapan Perang Berakhir? Begini Kata Pemerintah Iran |
Tokoh militer senior tersebut menuturkan Iran telah mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025. Selama periode itu, Teheran meningkatkan kemampuan rudal dan drone ofensif hingga “sepuluh kali lipat” sembari tetap menempuh jalur diplomasi.
Safavi mengklaim operasi gabungan AS-Israel dilandasi "penilaian strategis yang keliru" bahwa Iran melemah akibat konflik sebelumnya. Ia menegaskan serangan yang dilancarkan hanya menghantam bangunan yang sudah dikosongkan dari personel dan peralatan.
"Mereka menghancurkan bangunan kosong tanpa pasukan, tanpa penjaga, dan tanpa anggota Basij di dalamnya," katanya.
Ia menambahkan, tujuan kampanye AS-Israel berupa perubahan rezim, pembubaran, dan penaklukan Iran tidak akan tercapai. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa Majelis Pakar akan segera memilih pengganti Ayatollah Khamenei setelah pembentukan Dewan Kepemimpinan sementara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News