Jurnalis Arab Saudi Menghilang

Menlu Arab Saudi Bantah Keterlibatan Putra Mahkota

Fajar Nugraha 22 Oktober 2018 11:20 WIB
arab saudi
Menlu Arab Saudi Bantah Keterlibatan Putra Mahkota
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. (Foto: AFP).
Washington: Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengakui kematian dari jurnalis Jamal Khashoggi adalah kesalahan terbesar. Namun Jubeir menegaskan bahwa Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman tak terlibat dalam kasus ini.
 
Baca juga: Arab Saudi Akui Khashoggi Dibunuh di Konsulat.
 
Khashoggi selama ini dikenal sebagai jurnalis yang getol mengkritik Kerajaan Arab Saudi. Dirinya pun hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat. Khashoggi dilaporkan menghilang pada 2 Oktober setelah memasuki gedung Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul. Namun dia tidak pernah keluar lagi dari gedung itu dalam keadaan hidup-hidup.
 
Menlu Al-Jubeir pada Minggu 21 Oktober 2018 mengakui bahwa koresponden untuk The Washington Post itu telah meninggal. Kematian Khashoggi merupakan akibat dari operasi yang salah arah dari pihak yang dianggapnya telah melampai batas kewenangan.
 
"Ini adalah kesalahan buruk. Tragedi yang sangat buruk. Turut berduka kepada keluarga Khashoggi, kami merasakan kepedihan mereka. Saya pastikan, mereka yang bersalah akan ditindak," ujar Menlu Al-Jubeir, kepada Fox News, Minggu 21 Oktober 2018, seperti dikutip Eurasia, Senin, 22 Oktober 2018.
 
"Mereka yang melakukan tindakan ini sangat melintasi batas kewenangannya. Pelaku bukannya pihak yang dekat dengan Pangeran Mohammed bin Salman. Tidak satupun dari pelaku memiliki kaitan dengannya. Ini merupakan sebuah operasi dari yang melenceng dari tugas," tegasnya.
 
Baca juga: AS-Turki Sepakat Kasus Khashoggi Harus Diklarifikasi.
 
Khashoggi tewas di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, saat hendak merampungkan dokumen terkait perceraian. Pihak Arab Saudi mengatakan pada Sabtu 20 Oktober telah menangkap 18 orang yang berkaitan dengan kematian jurnalis itu.
 
Laporan bertolak belakang mengenai apakah Khashoggi sempat meninggalkan konsulat memicu penyelidikan. "Arab Saudi akan melanjutkan memberikan informasi mengenai kasus ini, setelah ada perkembangan terbaru," imbuh Al-Jubeir.
 
Tetapi secara terpisah seorang pejabat Arab Saudi mengatakan bahwa hilangnya Khashoggi didasarkan atas kesalahan informasi yang dilaporkan secara internal saat kejadian berlangsung.
 
"Setelah adanya kesalahan pada laporan misi awal, memicu penyelidikan dari pemerintah. Para pejabat pun diperintahkan untuk tidak berbicara kepada publik, selama penyelidikan berlangsung," sebut pejabat itu.
 
Baca juga: Trump Tuding Arab Saudi Berbohong soal Kematian Khashoggi.
 
Menurut keterangan pejabat itu, Wakil Kepala Intelijen Arab Saudi, Ahmed Al-Asiri mengumpul tim beranggotakan 15 orang menemui Khashoggi di konsulat. Tim itu ditugaskan untuk meyakinkan kembali ke Arab Saudi.
 
Situasi menjadi memburuk sejak awal. "Saat Khashoggi bersuara lantang, tim pun panik. Dia kemudian dicekik dan mulutnya ditutup. Mereka mencoba untuk menutup mulut agar tidak teriak, tetapi korban akhirnya tewas. Niatnya bukan untuk membunuh Khashoggi," imbuh pejabat tersebut.
 
Untuk menutupi kesalahan ini, tim itu pun membawa jenazah Khashoggi ditutupi karpet dan keluar dengan kendaraan konsulat kemudia menyerahkannya kepada 'kooperator setempat'. Seorang anggota tim kemudian menggunakan pakaian Khashoggi dan kemudian keluar dari pintu belakang gedung konsulat, untuk menyamar seperti Khashoggi.
 
Pejabat yang terkait operasi ini kemudian menulis laporan palsu untuk diserahkan kepada atasannya.
 
Kepada Arab News, analis politik Arab Saudi Dr. Hamdan Al-Shehri menilai keterangan ini seharusnya bisa mengakhiri cerita yang berkembang liar di media. Semua keterangan itu seharusnya bisa mengakhiri teori konspirasi yang melebar.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id