Demonstran berunjuk rasa di kota Omdourman, Sudan, Sabtu 13 Juli 2019. (Foto: AFP/AHMED MUSTAFA)
Demonstran berunjuk rasa di kota Omdourman, Sudan, Sabtu 13 Juli 2019. (Foto: AFP/AHMED MUSTAFA)

Paramiliter Sudan Bunuh Seorang Pria saat Bubarkan Demonstran

Internasional konflik sudan
Arpan Rahman • 15 Juli 2019 14:16
Khartoum: Pasukan paramiliter yang didukung Dewan Militer Transisi Sudan (TMC) menembak mati seorang pria saat membubarkan sekelompok demonstran di negara bagian Sennar. Menurut sejumlah petugas medis dan saksi mata, korban terkena tembakan di bagian kepala.
 
Menurut keterangan sejumlah saksi mata kepada kantor berita AFP. insiden terjdi El-Souk, Sennar, Minggu 14 Juli. Kala itu, para pengunjuk rasa meminta Pasukan Reaksi Cepat (RSF) untuk segera angkat kaki dari kota mereka.
 
"Warga berkumpul di luar gedung Badan Intelijen dan Keamanan Nasional (NISS) untuk mengeluhkan mengenai RSF," kata seorang saksi mata, yang meminta identitasnya disembunyikan atas alasan keamanan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Personel RSF dikerahkan, dan awalnya hanya menembakkan senjata mereka ke udara. Namun selang beberapa waktu, mereka menembaki warga, membunuh seorang pria dan melukai beberapa lainnya," lanjutnya,dikutip dari Al Jazeera,Minggu 14 Juli 2019.
 
Sebuah komite dokter terafiliasi grup pencetus gerakan protes, Aliansi Kebebasan dan Perubahan, mengonfirmasi terjadinya penembakan. "Seorang warga ditembak di bagian kepala oleh milisi Reaksi Unit Cepat," ungkap komite tersebut.
 
Unjuk rasa di depan gedung NISS dipicu aksi RSF yang menggerebek sebuah klub pemuda pada Sabtu 13 Juli. Kala itu, sekelompok orang berkumpul di klub dalam mengenang kematian sejumlah demonstran dalam unjuk rasa damai di Khartoum pada 3 Juni.
 
"Dalam acara tersebut, RFS datang menggerebek klub dan memukuli sejumlah pemuda yang ada di sana," tutur seorang saksi mata lainnya.
 
Masih di hari yang sama, demonstran berunjuk rasa di sejumlah kota di seantero Sudan, termasuk Khartoum. Mereka mengaku melakukan aksi tersebut untuk mengenang kematian sejumlah pengunjuk rasa yang tewas dalam penggerebekan di sebuah kamp protes di Khartoum pada awal Juni.
 
Krisis politik di Sudan dimulai tahun lalu, dan berujung pada tergulingnya Omar al-Bashir dari kursi kepresidenan pada April. Setelah Bashir digulingkan, militer Sudan mengambil alih kepemimpinan, dan bentrokan dengan demonstran pun terjadi.
 
Dalam bentrokan kedua kubu selama berpekan-pekan, sedikitnya 128 pengunjuk rasa tewas di tangan petugas. Inti perselisihan adalah, demonstran menginginkan pemerintahan Sudan dipimpin tokoh sipil, bukan dari kalangan militer.
 
Ketegangan militer dan demonstran Sudan mulai mereda setelah kedua kubu menyepakati perjanjian tentatif. Dua kubu sepakat membentuk badan pemerintah gabungan yang diisi tokoh dari militer dan juga sipil.
 
Baca:Demonstran Sudan Tuntut Keadilan atas Pembunuhan Massal
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif