Demonstran menuntut keadilan untuk 128 orang yang tewas dalam gelombang kericuhan di Sudan. (Foto: Ashraf Shazly/AFP/Getty Images)
Demonstran menuntut keadilan untuk 128 orang yang tewas dalam gelombang kericuhan di Sudan. (Foto: Ashraf Shazly/AFP/Getty Images)

Demonstran Sudan Tuntut Keadilan atas Pembunuhan Massal

Internasional konflik sudan
Arpan Rahman • 14 Juli 2019 12:10
Khartoum: Puluhan ribu demonstran turun ke jalanan sejumlah kota di Sudan, Sabtu 13 Juli. Mereka menuntut keadilan atas kematian sejumlah pengunjuk rasa di tangan petugas keamanan dalam gelombang kericuhan yang sempat terjadi di Sudan selama beberapa pekan.
 
Massa memadati sejumlah lapangan utama di seantero Sudan sembari mengibarkan bendera nasional dan juga menyalakan lilin. "Ibu seorang martir adalah ibuku, darah seorang martir adalah darahku," teriak para pedemo.
 
Krisis politik di Sudan dimulai tahun lalu, dan berujung pada tergulingnya Omar al-Bashir dari kursi kepresidenan pada April. Setelah Bashir digulingkan, militer Sudan mengambil alih kepemimpinan, dan bentrokan dengan demonstran pun terjadi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam bentrokan kedua kubu selama berpekan-pekan, sedikitnya 128 pengunjuk rasa tewas di tangan petugas. Inti perselisihan adalah, demonstran menginginkan pemerintahan Sudan dipimpin tokoh sipil, bukan dari kalangan militer.
 
Ketegangan militer dan demonstran Sudan mulai mereda setelah kedua kubu menyepakati perjanjian tentatif. Dua kubu sepakat membentuk badan pemerintah gabungan yang diisi tokoh dari militer dan juga sipil.
 
Baca:Sudan Tempuh Langkah Pertama Menuju Transisi Demokratis
 
Meski ketegangan mereda, pengunjuk rasa tidak ingin kematian 128 orang dalam kericuhan di Sudan terlupakan. Tawasol Noury, seorang dokter berusia 23 tahun, mengaku ikut aksi protes untuk mengingatkan kedua kubu bertikai -- dewan militer dan koordinator gerakan pro-demokrasi -- mengenai "darah para martir."
 
"Kami tidak ingin FFC lupa (pembunuhan massal), jadi kami mengingatkan mereka bahwa belum ada keadilan untuk para martir," kata Noury, disitir dari Guardian, Sabtu 13 Juli 2019.
 
FFC merujuk pada koalisi Pasukan untuk Kebebasan dan Perubahan, kekuatan utama di balik demonstrasi massal di Sudan.
 
Israga Mohamed, salah satu demonstran, menilai aksi protes ini merupakan bentuk kecintaan terhadap negara. "Kami menuntut keadilan untuk kematian para martir," ucapnya.
 
Sebagian besar kematian pedemo dalam kericuhan beberapa pekan lalu diyakini dilakukan Pasukan Reaksi Cepat (RSF) yang dikerahkan Dewan Militer Transisi Sudan (TMC). TMC berkuasa usai Bashir digulingkan setelah sempat berkuasa di Sudan selama 30 tahun.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif