Dilansir dari The Week, Selasa (12/1/2016), Andrew Carnegie merupakan orang terkaya sekaligus paling dermawan sepanjang sejarah. Ia adalah miliarder pertama yang menjadi filantropis.
Kisah Carnegie bermula saat industri berkembang sangat pesat dan menciptakan jarak cukup jauh antara si kaya dan si miskin. Hingga muncul istilah robber baron alias perampok.
Guna mengatasi ketidakseimbangan tersebut, beberapa pebisnis kaya pun menyumbangkan hampir seluruh hartanya. Pelopor langkah ini adalah pria asal Skotlandia, Andrew Carnegie.
Pemilik perusahaan baja US Steel ini yakin, bahwa pengusaha sukses secara moral wajib menyumbangkan hartanya untuk membantu yang lain. Saat meninggal pada 1919, Carnegie memberikan lebih dari 90 persen hartanya atau setara dengan Rp66,5 triliun saat ini, dihitung dengan inflasi.
Sumbangan Carnegie tersebut digunakan untuk membangun 2.800 perpustakaan publik yang kini dikenal sebagai Carnegie-Mellon University di Pittsburgh. Salah satu universitas riset terbaik di dunia.
Selain itu, dana sumbangan Carnegie juga digunakan untuk membuat banyak proyek di New York. Termasuk New York Carnegie Hall dan tempat konser.
Pria yang hidup di masa 1853 hingga 1919 ini, disebut-sebut sebagai orang terkaya sepanjang sejarah. Imigran dari Skotlandia ini menjual perusahaannya ke JP Morgan senilai US$ 480 juta pada 1901.
Di era modern, banyak yang mengikuti langkah Carnegie. Sebut saja Bill Gates, pendiri Microsoft ini punya yayasan amal bersama istrinya bernama Melinda Gates Foundation yang berdiri pada 2000.
Gates menyumbang Rp38,85 triliun ke yayasan ini. Ia juga mengajak Warren Buffet turut menyumbang. Buffet pun secara bertahap menyumbangkan 85 persen kekayaan pribadinya senilai Rp91,57 triliun ke yayasan itu.
Yayasan Gates tersebut mendistribusikan uang sumbangan yang ada untuk meningkatkan layanan kesehatan di negara miskin. Seperti program vaksin untuk membantu memberantas polio dan mengurangi potensi kematian akibat campak, TBC, dan malaria.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News